Virus Corona Mengancam, Citigroup Pangkas Tajam Proyeksi Harga Minyak

Citigroup memangkas proyeksi harga untuk sejumlah komoditas mulai dari minyak hingga tembaga seiring dengan memburuknya dampak virus corona (coronavirus).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 04 Februari 2020  |  08:59 WIB
Virus Corona Mengancam, Citigroup Pangkas Tajam Proyeksi Harga Minyak
Pompa minyak terlihat saat matahari terbit di dekat Bakersfield, California, AS. - REUTERS /Lucy Nicholson

Bisnis.com, JAKARTA – Citigroup memangkas proyeksi harga untuk sejumlah komoditas mulai dari minyak hingga tembaga seiring dengan memburuknya dampak virus corona (coronavirus).

Harga minyak mengalami penurunan paling parah, dengan pemangkasan estimasi oleh bank tersebut untuk tiga kuartal pertama tahun ini. Citi juga mengurangi proyeksi untuk harga tembaga pada kuartal pertama.

Hal ini dilakukan lantaran wabah virus corona telah "secara drastis mengubah" prospek ekonomi China dan global, tulis analis Citigroup termasuk Ed Morse, dalam catatannya.

Morse mengatakan pemerintah China memperhitungkan hambatan yang besar pada ekonominya dan kendati koalisi OPEC+ melancarkan upaya penurunan produksi OPEC+ yang lebih dalam, ini akan mendorong keseimbangan minyak yang lebih lemah.

“Akan ada efek tidak langsung kritis terhadap semua komoditas,” tutur Morse, seperti dilansir Bloomberg, Selasa (4/2/2020).

Citigroup memangkas estimasi minyak Brent kuartal pertama menjadi US$54 per barel dari US$69. Penurunan dalam proyeksi untuk dua kuartal berikutnya didasarkan pada pandangan bahwa virus ini akan memiliki dampak lebih panjang dan lebih dalam dari yang diperkirakan sebelumnya.

Dikatakan, harga patokan minyak mentah global itu bisa jatuh hingga menyentuh level US$47 per barel, yang akan menjadi level terlemah dalam dua setengah tahun.

Adapun harga minyak mentah untuk kuartal kedua dipangkas menjadi level US$50 per barel dari US$68 dan proyeksi untuk tiga bulan berikutnya menjadi US$53 dari US$63 per barel. Namun, bank ini merevisi naik proyeksi harga untuk kuartal keempat menjadi US$58 per barel dari US$57.

Sementara itu, permintaan minyak di China, importir terbesar dunia, disebut-sebut telah turun sekitar 3 juta barel per hari, atau 20 persen dari total konsumsi.

Virus corona yang bermula di kota Wuhan itu tampaknya akan menjadi guncangan permintaan terbesar untuk pasar minyak sejak krisis keuangan global lebih dari satu dekade lalu.

Koalisi Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan aliansinya (OPEC+) kini tengah mempertimbangkan untuk mengadakan pertemuan darurat merespons dampak wabah virus corona di China.

Harga minyak Brent sendiri telah merosot 13 persen sejak 20 Januari, ketika pasar keuangan pertama kali memperhatikan besarnya wabah virus corona di China, dan diperdagangkan di kisaran US$56,50 per barel pada Senin (3/2/2020).

Pemangkasan proyeksi ini menggarisbawahi meningkatnya kekhawatiran di antara pedagang tentang permintaan pengguna energi dan produsen logam terbesar di dunia di tengah langkah-langkah ekstrem yang telah diambil pemerintah China untuk menghentikan penyebaran virus.

Sementara itu, Citi memangkas prediksi harga tembaga untuk kuartal pertama menjadi US$5.600 per ton dari US$6.000 dan proyeksi harga batu bara kokas menjadi US$150 per metrik ton dari US$170.

Dampak guncangan permintaan terhadap harga komoditas dilihat akan memuncak pada kuartal pertama, tulis para analis. Meski demikian, masih ada banyak ketidakpastian yang bergantung pada seberapa jauh virus menyebar dan durasi wabah ini terjadi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak, virus corona

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top