Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Emiten Batu Bara Dihantui Wabah Corona

Pelemahan ekonomi China sebagai dampak dari wabah virus corona dinilai bisa berdampak terhadap kinerja emiten batu bara.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 04 Februari 2020  |  18:37 WIB
Aktivitas penambangan batu bara di Tambang Air Laya, Tanjung Enim, Sumatra Selatan, Minggu (3/3/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan
Aktivitas penambangan batu bara di Tambang Air Laya, Tanjung Enim, Sumatra Selatan, Minggu (3/3/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Kalangan analis menilai emiten batu bara berpotensi terpapar risiko pelemahan ekonomi China sebagai buntut dari wabah Virus Corona. Namun, permintaan batu bara di dalam negeri dinilai bisa mengurangi terpaan risiko yang datang dari faktor global.

Sejak wabah virus corona merebak, kekhawatiran terhadap pelemahan ekonomi China kian menjadi. Konsesus Bloomberg memperkirakan ekonomi China akan tumbuh melambat 4,6 persen pada kuartal I/2020.

Analis Indo Premier Sekuritas Mino mengatakan pelambatan ekonomi China akan berdampak signifikan terhadap sektor komoditas dalam negeri, terutama komoditas batu bara. Dia memperkirakan, laju emiten batu bara akan mendapat ganjalan keras pada tiga bulan pertama 2020.

“Saat ini kita masih ditopang oleh bisnis komoditas [batu bara]. Jadi pasti akan memberikan efek domino seperti consumer dan pembiayaan. Kalau pun tidak bersinggungan langsung pasti akan terefek,” jelas Mino kepada Bisnis.com, Selasa (4/2/2020).

Head of Business Development Sucor Sekuritas Bernadus Wijaya berpendapat, dampak dari pelemahan ekonomi China bisa merembet pada kinerja pendapatan emiten batu bara. Dia beralasan, salah satu permintaan batu bara terbesar di dunia berasal dari Cina.

Dia menilai strategi pemerintah untuk menurunkan produksi batu bara sungguh tepat untuk menjaga harga batu bara. Namun dari sisi volume, penjualan batu bara akan tetap menurun.Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya membatasi produksi batu bara dalam negeri sebesar 550 juta ton pada tahun ini, lebih rendah dari realisasi produksi pada 2019 sebanyak 610 juta ton.

“Meski begitu perusahaan batu bara Indonesia tetap diuntungkan karena demand yang tetap stabil dari dalam negeri, terutama dari PLN,” terang Bernardus.

Dalam kondisi pasar seperti ini, Bernadus menyarankan emiten batu bara untuk mempercepat diversifikasi bisnis sehingga pendapatan usaha tidak hanya mengandalkan penjualan batu bara. Emiten, lanjut Bernadus harus bisa menciptakan permintaan dengan berinvestasi pada pembangkit listrik.

Oleh karena itu, dia merekomendasikan saham PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) karena sebagian besar pendapatan usaha ditopang penjualan batubara domestik. Selain itu, di saat kondisi suku bunga terus menurun, investor cenderung untuk mencari perusahan yang memiliki high dividend yield seperti PTBA.

Analis Mirrae Asset Sekuritas Andy Wibowo memprediksi harga batu bara global akan cenderung variatif selama pekan ini seiring kekhawatiran pasar terhadap wabah virus corona yang tampaknya akan berefek pada pertumbuhan ekonomi China dalam jangka waktu dekat.

“Minggu ini, Cina akan merilis impor total batu bara Januari yang kami pikir akan lebih tinggi dari bulan sebelumnya karena efek musiman,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara kinerja emiten Virus Corona
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top