IHSG Patahkan Koreksi Tiga Hari, BBCA & BBRI Pendongkraknya

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit dari pelemahannya dan menutup pergerakannya di zona hijau pada perdagangan hari ini, Selasa (4/2/2020).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 04 Februari 2020  |  16:38 WIB
IHSG Patahkan Koreksi Tiga Hari, BBCA & BBRI Pendongkraknya
Bursa Efek Indnesia (IDX). - Dimas Ardian /Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit dari pelemahannya dan menutup pergerakannya di zona hijau pada perdagangan hari ini, Selasa (4/2/2020).

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan IHSG berakhir di level 5.922,34 dengan penguatan 0,65 persen atau 38,17 poin dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Senin (3/2/2020), IHSG ditutup di level 5.884,17 dengan pelemahan 0,94 persen atau 55,88 poin, penurunan hari perdagangan ketiga berturut-turut sejak 30 Januari.

Indeks mulai rebound dari pelemahannya dengan dibuka naik tajam 1,08 persen atau 63,34 poin di posisi 5.947,51 pada Selasa (4/2) pagi. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di level 5.911,37 – 5.952,95.

Sebanyak tujuh dari sembilan sektor berakhir di wilayah positif, dipimpin aneka industri (+1,68 persen) dan finansial (+1,33 persen). Adapun sektor perdagangan dan pertanian masing-masing terkoreksi 0,50 persen dan 0,07 persen.

Sementara itu, dari 676 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 210 saham menguat, 184 saham melemah, dan 282 saham stagnan.

Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang masing-masing naik 2,48 persen dan 2,24 persen menjadi pendorong utama IHSG.

Di sisi lain, pelemahan saham PT Bank Mega Tbk. (MEGA) dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (PGAS) masing-masing sebesar 14,29 persen dan 10,59 persen menjadi penekan utama sekaligus membatasi besarnya kenaikan IHSG.

Sejalan dengan IHSG, nilai tukar rupiah rebound dan ditutup terapresiasi 27 poin atau 0,20 persen di level Rp13.715 per dolar AS, setelah melemah 87 poin dan berakhir di posisi 13.742 pada Senin (3/2).

Rata-rata indeks saham di Asia juga berakhir di wilayah positif. Indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang naik 0,49 persen dan 0,69 persen masing-masing. Adapun indeks Kospi Korea Selatan naik tajam 1,84 persen dan indeks Hang Seng Hong Kong menanjak 1,21 persen.

Di China, indeks saham Shanghai Composite dan CSI 300 pun berakhir naik tajam 1,34 persen dam 2,64 persen setelah terjungkal 7,72 persen dan 7,88 persen masing-masing pada perdagangan Senin (3/2).

Secara keseluruhan, pasar saham global serempak bangkit dari pelemahannya dan menguat pada perdagangan hari ini, setelah aksi jual brutal yang dialami bursa saham China terhenti saat investor mencermati upaya terkini untuk membendung wabah virus corona.

Dilansir dari Bloomberg, investor mempertimbangkan pembatasan perjalanan oleh China dan penutupan aktivitas bisnis bersamaan dengan langkah-langkah yang dilancarkan pemerintah China untuk mendukung pertumbuhan.

Pada Selasa (4/2), People’s Bank of China (PBOC) menetapkan nilai tukar yuan lebih kuat dari 7 per dolar di level 6,9779 sebagai sinyal dukungan bahkan ketika mata uang China ini melemah melewati level support utama pada Senin (3/2).

Ini menjadi langkah dukungan terbaru yang dilancarkan pemerintah China setelah pada Senin PBOC menginjeksi uang tunai ke dalam sistem keuangannya.

PBOC menginjeksi dana 900 miliar yuan atau US$129 miliar dengan seven-day reverse repurchase agreements sebesar 2,4 persen, juga suntikan 300 miliar yuan atau US$45 miliar dengan 14-day contracts sebesar 2,55 persen.

Meski demikian, investor tetap mempersiapkan diri untuk melihat perubahan saham yang lebih fluktuatif karena reaksi terhadap langkah-langkah dukungan pemerintah China dan memburuknya wabah virus corona yang mengancam ekonomi China.

Total korban jiwa akibat wabah virus corona telah mencapai setidaknya 425 orang di China dan lebih dari 20.000 orang terinfeksi hingga 3 Februari 2020 sejak pertama kali dilaporkan pada Desember 2019.

Sejumlah ekonom berpendapat bahwa merebaknya virus corona berikut upaya pemerintah China untuk menghentikan penyebarannya menunjukkan bahwa ekonomi China akan tumbuh lebih lambat pada kuartal ini daripada yang diperkirakan.

"Yang terburuk belum berakhir untuk pasar China. Kita hanya melihat rebound setelah penurunan tajam kemarin. Ini memberi waktu untuk mengambil jeda,” ujar Sean Lee, manajer dana di Shin Kong Investment Trust, seperti dikutip Bloomberg.

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

Kenaikan (persen)

BBCA  

+2,48

BBRI

+2,24

ASII

+1,99

BBNI

+3,16

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

Penurunan (persen)

MEGA

-14,29

PGAS

-10,59

MLBI

-9,68

MPRO

-19,12

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, virus corona

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top