Investor Cermati Upaya Bendung Virus Corona, Saham Global Rebound

Pasar saham global serempak bangkit dari pelemahannya dan menguat pada perdagangan hari ini, Selasa (4/2/2020), setelah aksi jual brutal yang dialami bursa saham China terhenti saat investor mencermati upaya terkini untuk membendung wabah virus corona.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 04 Februari 2020  |  16:14 WIB
Investor Cermati Upaya Bendung Virus Corona, Saham Global Rebound
Bursa Jepang. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pasar saham global serempak bangkit dari pelemahannya dan menguat pada perdagangan hari ini, Selasa (4/2/2020), setelah aksi jual brutal yang dialami bursa saham China terhenti saat investor mencermati upaya terkini untuk membendung wabah virus corona.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks futures S&P 500 menanjak 1 persen dan kontrak berjangka Stoxx Europe 600 menguat 0,8 persen pada pukul 8.18 pagi waktu London (pukul 15.18 WIB).

Pada saat yang sama, indeks MSCI Asia Pacific menanjak 1,2 persen, indeks Nasdaq 100 menguat 1 persen, dan indeks All-Country World naik 0,4 persen. Adapun indeks Shanghai Composite China naik tajam sekitar 1,3 persen setelah sempat anjlok 2,2 persen.

Dilansir dari Bloomberg, investor mempertimbangkan langkah pembatasan perjalanan oleh China dan penutupan aktivitas bisnis bersamaan dengan langkah-langkah yang dilancarkan pemerintah China untuk mendukung pertumbuhan.

Pada Selasa (4/2), People’s Bank of China (PBOC) menetapkan nilai tukar yuan lebih kuat dari 7 per dolar di level 6,9779 sebagai sinyal dukungan bahkan ketika mata uang China ini melemah melewati level support utama pada Senin (3/2).

Ini menjadi langkah dukungan terbaru yang dilancarkan pemerintah China setelah pada Senin PBOC menginjeksi uang tunai ke dalam sistem keuangannya.

PBOC menginjeksi dana 900 miliar yuan atau US$129 miliar dengan seven-day reverse repurchase agreements sebesar 2,4 persen, juga suntikan 300 miliar yuan atau US$45 miliar dengan 14-day contracts sebesar 2,55 persen.

Pihak otoritas telah berjanji untuk menyediakan likuiditas berlimpah dan mendesak investor untuk mengevaluasi dampak virus corona secara objektif.

Meski demikian, investor tetap mempersiapkan diri untuk melihat perubahan saham yang lebih fluktuatif karena reaksi terhadap langkah-langkah dukungan pemerintah China dan memburuknya wabah virus corona yang mengancam ekonomi China.

Total korban jiwa akibat wabah virus corona telah mencapai setidaknya 425 orang di China dan lebih dari 20.000 orang terinfeksi hingga 3 Februari 2020 sejak pertama kali dilaporkan pada Desember 2019.

Sejumlah ekonom berpendapat bahwa merebaknya virus corona berikut upaya pemerintah China untuk menghentikan penyebarannya menunjukkan bahwa ekonomi China akan tumbuh lebih lambat pada kuartal ini daripada yang diperkirakan.

Goldman Sachs Group Inc, UBS Group AG dan Macquarie Group Ltd. adalah di antara mereka yang memangkas proyeksi pertumbuhan mereka untuk kuartal pertama dan full year.

"Yang terburuk belum berakhir untuk pasar China. Kita hanya melihat rebound setelah penurunan tajam kemarin. Ini memberi waktu untuk mengambil jeda," kata Sean Lee, manajer dana di Shin Kong Investment Trust.

Menurut Andrew Harmstone, manajer portofolio di Morgan Stanley Investment Management, saat ini belum waktunya untuk kembali masuk ke dalam pasar dan melakukan pembelian.

“Kita harus melihat lebih banyak puncak dari aksi jual ataupun resolusi atas penyebaran virus,” tambahnya, kepada Bloomberg TV di Singapura.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia, virus corona

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top