Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dolar AS Naik Tipis, Rupiah Terkuat Kedua di Asia

Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berlanjut pada perdagangan pagi ini, Senin (13/1/2020).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 13 Januari 2020  |  08:43 WIB
Mata uang rupiah dan dolar AS - Reuters/Yusuf Ahmad
Mata uang rupiah dan dolar AS - Reuters/Yusuf Ahmad

Bisnis.com, JAKARTA – Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berlanjut pada perdagangan pagi ini, Senin (13/1/2020).

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka menguat 28 poin atau 0,20 persen di level Rp13.744 per dolar AS.

Penguatannya kemudian bertambah menjadi 55 poin atau 0,40 persen ke level Rp13.717 pada pukul 08.16 WIB dari level penutupan sebelumnya.

Pada perdagangan Jumat (10/1/2020), rupiah mampu berakhir menguat 82 poin atau 0,59 persen di level Rp13.772 per dolar AS, level terkuatnya sejak April 2018.

Menurut Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra, rupiah yang berhasil menutup perdagangan akhir pekan di bawah level support Rp13.900 per dolar AS telah membuka peluang rupiah melanjutkan penguatan.

“Ini membuka potensi penguatan rupiah lanjutan, dengan catatan situasi Timur Tengah tidak memanas lagi,” papar Ariston saat dihubungi Bisnis.

Berlanjutnya penguatan rupiah juga akan ditopang oleh optimisme pertemuan AS dan China untuk menandatangani kesepakatan dagang tahap pertama.

Data PDB China pada kuartal IV/2019 yang akan dirilis pekan ini pun siap membantu mendorong rupiah untuk bergerak lebih kuat. Jika data tersebut dirilis lebih atau tetap dari kisaran 6 persen akan memberikan sentimen positif terhadap aset berisiko.

Di sisi lain, Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan bahwa penguatan rupiah juga ditopang dengan sangat baik oleh fundamental dalam negeri sehingga menarik investor global untuk melirik pasar Indonesia.

“Data inflasi, cadangan devisa cukup baik, pertumbuhan juga relatif stabil sehingga mendorong para investor untuk investasi ke portofolio Indonesia, terutama obligasi,” ujar David kepada Bisnis.

Tercatat, imbal hasil obligasi Indonesia untuk tenor 10 tahun berhasil menembus ke bawah level 7 persen menjadi cerminan banyaknya investor tertarik terhadap aset investasi ini.

Selain itu, langkah pemerintah untuk menerbitkan global bond dengan perincian US$2 miliar untuk dolar AS dan sebesar US$1 miliar untuk euro juga menjadi amunisi pasokan valuta asing (valas) dalam negeri sehingga dapat memperbaiki cadangan devisa dalam negeri.

Penguatan rupiah pagi ini membawanya yang terkuat kedua di Asia terhadap dolar AS. Penguatan tertajam dibukukan won Korea Selatan yang terapresiasi 0,5 persen pada pukul 08.17 WIB.

Sementara itu, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama, naik tipis 0,06 persen atau 0,062 poin ke level 97,418, setelah berakhir terkoreksi 0,10 persen atau 0,094 poin ke posisi 97,356 pada Jumat (10/1/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top