Rupee Diproyeksi Kalahkan Rupiah, Baht, dan Ringgit Tahun Ini

Namun, masih ada sejumlah sentimen eksternal yang dapat membebani rupee.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 10 Januari 2020  |  13:24 WIB
Rupee Diproyeksi Kalahkan Rupiah, Baht, dan Ringgit Tahun Ini
Profil Mahatma Gandhi terpampang dalam uang lembaran rupee India. - Reuters/Thomas White

Bisnis.com, JAKARTA — Rupee India kemungkinan akan mengalahkan sebagian besar rekan-rekan mata uang Asia lainnya pada tahun ini, seiring dengan pertumbuhan ekonomi dalam negerinya yang diproyeksi tumbuh lebih baik daripada 2019.

Kepala Ekonom Internasional Rabobank India Hugo Erken mengatakan pelemahan ekonomi India terburuk telah berlalu pada tahun lalu, sedangkan hingga saat ini masih terdapat beberapa negara di Asia lainnya yang mengalami beberapa kejutan perlambatan hingga 2020.

“Rupee mungkin hanya akan melemah kurang dari 1 persen selama 12 bulan ke depan, sedangkan rupiah Indonesia mungkin jatuh 7 persen, baht Thailand 11 persen, dan ringgit Malaysia turun 9 persen,” ujarnya seperti dilansir Bloomberg, Jumat (10/1/2020).

Kendati demikian, pandangan Rabobank tersebut bertentangan dengan beberapa proyeksi mata uang dari analis, termasuk TD Securities dan Kotak Mahindra Bank, yang memperkirakan rupee akan ikut jatuh bersama dengan mata uang Asia lainnya.

Wakil Presiden Kotak Institutional Equities di Mumbai Suvodeep Rakshit memperkirakan rupee juga akan terdepresiasi pada tahun ini, apalagi dengan jika lonjakan sentimen risiko AS dan Iran serta ketegangan geopolitik lainnya yang masih membayangi pasar.

"Mengingat makro domestik dan isu-isu geopolitik baru-baru ini, rupee tidak akan menjadi mata uang yang relatif lebih baik," tuturnya.

Rupee adalah mata uang dengan kinerja penguatan tahunan terburuk kedua di Asia pada 2019, meskipun sekitar US$18 miliar masuk ke obligasi dan ekuitas India. Hal tersebut dikarenakan Reserve Bank of India (RBI) menyapu bersih US$29 miliar dalam 10 bulan pertama tahun lalu untuk membangun cadangannya baru.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Jumat (10/1) hingga pukul 12.48 WIB, rupee menguat 0,18 persen menjadi 71,09 rupee per dolar AS, berhasil membalikkan arah setelah terdepresiasi selama 3 pekan berturut-turut.

Ahli Strategi Pasar Berkembang TD Securities Singapura Mitul Kotecha menyatakan bank sentral India mungkin tidak terlalu khawatir terhadap kebijakan itu dan pada kenyataannya dapat mendukung pelemahan rupee sebagai sarana untuk merangsang ekspor dan ekonomi, karena tingkat inflasi yang relatif rendah.

Adapun ekonomi India masih ditetapkan untuk ekspansi paling lambat sejak 2009, terbebani oleh penurunan belanja. Demikian mengutip data ekonomi India terbaru yang dirilis pada Selasa (7/1).

"Investor cenderung merespons kebijakan kuat seperti itu dengan menarik investasi portofolio. Itu jelas bukan pertaruhan yang RBI mau ambil dari sudut pandang stabilitas fiskal, mata uang, dan investasi,” sambungnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
india, mata uang asia

Editor : Annisa Margrit
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top