Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mengintip Aliansi Bisnis Lippo Karawaci dan SoftBank

Menjelang berakhirnya kuartal IV/2019, PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) mengumumkan kerja sama dengan SoftBank Corp. Perusahaan asal Jepang itu menjadi mitra strategis perusahaan Grup Lippo yang keempat pada tahun ini.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 28 November 2019  |  18:26 WIB
Pengunjung mengambil gambar maket kawasan Millenium Village milik PT Lippo Karawaci Tbk di Tangerang, Banten, Sabtu (25/3). - JIBI/Dedi Gunawan
Pengunjung mengambil gambar maket kawasan Millenium Village milik PT Lippo Karawaci Tbk di Tangerang, Banten, Sabtu (25/3). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Menjelang berakhirnya kuartal IV/2019, PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) mengumumkan kerja sama dengan SoftBank Corp. Perusahaan asal Jepang itu menjadi mitra strategis perusahaan Grup Lippo yang keempat pada tahun ini.

Chief Executive Officer Lippo Karawaci John Riady mengatakan kerja sama ini dibangun untuk memuluskan langkah perseroan bertransformasi menjadi smart city. John mengatakan Lippo Village akan menjadi kawasan pertama yang akan disulap menggunakan teknologi.

Menurutnya, LPKR akan memanfaatkan teknologi yang dimiliki SoftBank berupa Internet of Things (IoT), Artificial Inteligent (AI), dan juga big data. Dengan begitu, penghuni di kawasan tersebut mendapatkan pengalaman yang berbeda.

“Kami memang perusahaan properti tapi kami harus berpikir sebagai perusahaan konsumer di era ini. Sehingga konsumen memiliki pengalaman dan journey yang terbaik. Kerja sama ini sangat penting bagi visi dan strategi kami,” katanya saat MoU di Jakarta pada, Kamis (28/11/2019).

Meski demikian, John tidak ingin mengungkapkan nilai investasi yang dikeluarkan oleh kedua belah pihak. Menurutnya, jumlah yang dikeluarkan tidak terlalu banyak karena LPKR telah memiliki infratruktur yang memadai hanya tinggal digabungkan dengan teknologi milik perusahaan Jepang tersebut.

Lebih detil, John menjelaskan kawasan Lippo Village nantinya akan diperkuat dengan kamera pengawas yang terintegrasi. Dengan begitu pengawasan dan keamanan hunian dapat maksimal, karena kamera itu dapat mengenali wajah.

Selain itu, LPKR dapat mengantisipasi kemacetan yang seringkali terjadi dengan big data. Pasalnya teknologi itu dapat menghitung jumlah dan membedakan jenis kendaraan pada saat yang sama.

“Kami akan mengantisipasinya jadi sebelum macet akan kami lancarkan, karena teknologi akan mempelajari pola-pola yang membentuk macet,” katanya. John pun mengatakan dengan kerja sama itu, perseroan dapat melakukan efisiensi beban.

John menargetkan teknologi itu akan siap digunakan pada semester I/2020. Selain kawasan perumahan, LPKR akan memperluas kerja sama itu sampai ke jaringan mal yang dimiliki oleh perseroan dan rumah sakit. 

“Kami tidak akan berhenti disini, kawasan lain juga akan kami berikan teknologi yang sama,” katanya. Dia menambahkan, ke depan proyek LPKR akan menggunakan kecanggihan teknologi SoftBank Corp.

Sementara itu, Vice President and Head Of Global Business Strategy SoftBank Hidebumi Kitahara mengatakan kedua belah pihak telah sepakat pada tahun lalu untuk pengembangan smart city. Namun, eksekusinya mulai dijalankan pada akhir tahun ini.

"Kami sangat senang dapat meluncurkan IoT dan kecerdasan buatan untuk membuat penghuni Lippo Village semakin nyaman," katanya.

Menurutnya, kerja sama ini akan bersifat jangka panjang antara kedua belah pihak. Namun, sambungnya, SoftBank tidak akan hanya terpaut pada Lippo Group saja.

“Kami tidak bisa mengungkapkan nilai investasi, yang jelas itu cukup. Pertama akan Lippo lalu kami akan merambah ke seluruh negeri. Karena target kami bukan angka investasi melainkan mengubah gaya hidup,” sebutnya.

SEJUMLAH INVESTOR

Sepanjang 2019, LPKR bukan hanya mengundang SoftBank untuk ikut berinvestasi ke dalam Lippo Group. Sebelumnya, anak usaha Keluarga Riady itu juga menggandeng George Raymond Zage III, Chow Tai Fook Nominee Limited, dan Gateway Partners.

Ketiga investor itu masuk ketika perseroan membuka peluang rights issue pada Semester I/2019. George Raymond Zage III, Chow Tai Fook Nominee Limited, dan Gateway Partners setidaknya menginvestasikan lebih dari US$230 juta bagi perseroan. Mereka memiliki jumlah saham sebanyak 14,38 juta lembar atau setara dengan 20,3% kepemilikan.

Kucuran dana segar hasil penggalangan dana akan dipakai sekitar Rp5 triliun untuk mengejar pembangunan proyek properti, termasuk di dalamnya Meikarta. Selain itu Rp3 triliun di antaranya untuk meningkatkan likuiditas dengan membayar utang.

LPKR pun menargetkan dapat menyelesaikan 8 proyek yang telah dimulai termasuk Meikarta. Sementara target jangka menegah LPKR dalam 5—10 tahun ke depan adalah membangun 100.000 unit hunian. Perseroan juga fokus membangunan dan menyelesaiakan Meikarta fase 1A sebanyak 56 tower dengan total 22.500 unit.

Hanya saja, sektor properti yang menjadi bisnis utama perseroan justru mengalami penurunan pada kuartal III/2019. Entitas usaha, PT Lippo Cikarang Tbk. (LPCK) mengalami penurunan pendapatan 42% menjadi Rp1,06 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp1,84 triliun.

Penurunan terjadi karena periode ini total penjualan lahan komersial dan ruko perseroan menyusut 92% dari posisi Rp857,5 miliar menjadi Rp68,9 miliar. Begitu juga dengan penjualan rumah hunian dan apartemen yang terkoreksi 9% ke posisi Rp653,4 miliar.

Presiden Direktur PT Lippo Cikarang Tbk. Simon Subiyanto mengatakan melalui produk yang baru saja diluncurkan yakni Grand Acacia Garden permintaan pasar akan naik karena harga yang menarik untuk segmen perumahan.

“Mengingat pasar properti yang kompetitif saat ini, kami terus fokus untuk memberikan hasil operasional yang kuat sementara kami menyediakan produk-produk berkualitas tinggi bagi pelanggan kami,” ungkapnya.

Lippo Group kini tengah bergantung dari sektor jasa kesehatan melalui PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO). Pasalnya segmen usaha ini secara konsisten menjadi penopang utama kinerja keuangan.

Pada kuartal III/2019, SILO menyumbang pendapatan sebesar Rp5,21 triliun dengan laba bersih mencapai Rp42,88 miliar. Adapun laba per saham yang dapat diatribusikan mencapai Rp26,38.

Pada Desember mendatang, SILO akan melakukan pembelian kembali saham perseroan dengan dana sebanyak-banyaknya Rp100 miliar termasuk biaya perantara. Perseroan menargetkan dapat membeli kembali sebanyak-banyaknya 1% saham atau 16,25 juta saham.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lippo karawaci softbank
Editor : Hendri Tri Widi Asworo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top