Ringkasan Perdagangan 14 Agustus: IHSG & Rupiah Ngegas, Minyak Jebol

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak mematahkan pelemahannya selama dua hari berturut-turut bersama nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah meredanya tensi AS-China.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 14 Agustus 2019  |  20:12 WIB
Ringkasan Perdagangan 14 Agustus: IHSG & Rupiah Ngegas, Minyak Jebol
Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak mematahkan pelemahannya selama dua hari berturut-turut bersama nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah meredanya tensi AS-China.

Meski sentimen positif itu mampu mendongrak aset-aset berisiko, daya tarik aset safe haven, seperti mata uang yen Jepang dan emas yang kerap diburu investor di tengah ketidakpastian, kembali naik pascarilis sejumlah data ekonomi yang mengecewakan.

Berikut adalah ringkasan perdagangan di pasar saham, mata uang, dan komoditas yang dirangkum Bisnis.com, Rabu (14/8/2019):

Longsor Dua Hari, IHSG & Rupiah Langsung Tancap Gas

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses rebound dan ditutup menanjak 0,91 persen atau 56,37 poin di level 6.267,33, mematahkan pelemahan hari kedua berturut-turut sebelumnya.

Dua saham emiten bank yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang masing-masing naik 2,04 persen dan 1,17 persen menjadi pendorong utama penguatan IHSG.

Rata-rata indeks saham lainnya di Asia juga berakhir menguat, di antaranya indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang sebesar 0,98 persen dan 0,87 persen masing-masing, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan menguat 0,65 persen.

Di China, dua indeks saham utamanya Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing naik 0,42 persen dan 0,45 persen. Adapun indeks Hang Seng Hong Kong berakhir naik tipis 0,08 persen.

Rupiah Ditutup Menguat

Nilai tukar rupiah berakhir menguat 80 poin atau 0,56 persen di level Rp14.245 per dolar AS, di tengah membaiknya sentimen untuk aset berisiko. Mata uang lainnya di Asia mayoritas juga menguat, dipimpin yen Jepang yang lanjut terapresiasi 0,79 persen pukul 19.33 WIB.

“Mata uang bereaksi terhadap keputusan AS untuk menunda tarif, tetapi ini mungkin hanya akan memberi dampak jangka pendek karena tidak akan mengubah sentimen bearish dari fundamental ekonomi makro di kawasan itu,” ujar Tetsuji Sano, seorang ekonom senior di Sumitomo Mitsui DS Asset Management, Hong Kong.

Seiring dengan penguatan yen, indeks dolar AS lanjut terkoreksi 0,133 poin atau 0,14 persen ke posisi 97,679.

Meski keputusan penundaan tarif untuk China mengangkat perdagangan aset-aset berisiko, sejumlah analis memperingatkan bahwa optimisme pasar sudah memudar karena tidak ada solusi cepat untuk sengketa perdagangan yang telah mengancam pertumbuhan ekonomi global.

Bursa Asia Menguat, Kontraksi Ekonomi Jerman Pukul Pasar Eropa

Secara keseluruhan bursa Asia mampu rebound dan menguat setelah pemerintah AS menyatakan akan menunda tarif pada beberapa produk China.

Kendati sentimen positif itu menopang aset-aset berisiko, daya tarik aset safe haven, seperti mata uang yen Jepang yang kerap diburu investor di tengah ketidakpastian, kembali naik setelah data penjualan ritel dan data produksi industri China dilaporkan meleset dari perkiraan.

Sementara itu, bursa Eropa tergelincir menyusul rilis data yang menunjukkan kontraksi ekonomi Jerman pada kuartal kedua tahun ini. Produk Domestik Bruto (PDB) Jerman turun 0,1 persen q-o-q, setelah mampu tumbuh 0,4 persen pada kuartal I/2019.

Yen Masih Laku Meskipun Trump Tunda Tarif, Ini Alasannya

Pamor mata uang yen Jepang mampu kembali naik, meskipun keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menunda tarif terhadap sejumlah barang asal China berhasil memulihkan daya tarik aset-aset berisiko.

Meski penundaan itu mengangkat perdagangan aset-aset berisiko, sejumlah analis memperingatkan bahwa optimisme sudah memudar karena tidak ada solusi cepat untuk sengketa perdagangan yang telah mengancam pertumbuhan ekonomi global.

Bentrokan yang semakin keras antara pengunjuk rasa dan pihak kepolisian di Hong Kong, kekhawatiran tentang keluarnya Inggris dari Uni Eropa tanpa kesepakatan, dan ketegangan Timur Tengah dapat kembali memicu penghindaran risiko dan berdampak pada mata uang utama.

Pergerakan Harga Emas

Harga emas Comex untuk kontrak Desember 2019 terpantau berbalik ke zona hijau dan menguat 11,20 poin atau 0,74 persen ke level US$1.525,30 per troy ounce pukul 19.22 WIB.

Di dalam negeri, harga emas batangan Antam berdasarkan daftar harga emas untuk Butik LM Pulogadung Jakarta turun tipis sebesar Rp1.000 menjadi Rp754.000 per gram. Harga pembelian kembali atau buyback emas Antam ikut turun Rp1.000 menjadi Rp682.000 per gram.

Analis PT Maxco Futurs Suluh Adil Wicaksono mengatakan bahwa pergerakan emas sesungguhnya hanya memasuki masa konsolidasi setelah menyentuh level tertinggi sejak 2013.

“Emas masih akan memiliki posisi, ini hanya untuk merespon fundamental untuk koreksi terbatas,” ujar Suluh

Data Ekonomi China Mengecewakan, Harga Minyak Jatuh

Harga minyak jatuh pada perdagangan hari ini karena data ekonomi China mengecewakan dan peningkatan persediaan minyak Amerika Serikat. Kedua kabar tersebut memadamkan sentimen positif sebelumnya terkait meredanya tensi perang dagang AS dan China.

Margaret Yang, analis pasar di CMC Markets mengatakan, situasi pertumbuhan industri dan belanja konsumen China yang memburuk memperlihatkan gambaran fundamental tidaklah bagus.

Sementara itu, data dari kelompok industri American Petroleum Institute (API) menunjukkan stok minyak mentah AS secara tak terduga naik minggu lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah, Harga Minyak

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top