Yen Masih Laku Meskipun Trump Tunda Tarif, Ini Alasannya

Pamor mata uang yen Jepang mampu kembali naik, meskipun keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menunda tarif terhadap sejumlah barang asal China berhasil memulihkan daya tarik aset-aset berisiko.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 14 Agustus 2019  |  11:30 WIB
Yen Masih Laku Meskipun Trump Tunda Tarif, Ini Alasannya
Mata uang Yen Jepang - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Pamor mata uang yen Jepang mampu kembali naik, meskipun keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menunda tarif terhadap sejumlah barang asal China berhasil memulihkan daya tarik aset-aset berisiko.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar yen diperdagangkan menguat 0,38 persen atau 0,41 poin ke level 106,33 per dolar AS hari ini, Rabu (14/8/2019), pukul 10.12 WIB.

Pada perdagangan Selasa (13/8), yen mematahkan rangkaian penguatan yang dibukukan empat hari beruntun dengan berakhir melorot 1,37 persen atau 1,44 poin di posisi 106,74.

Pada Selasa (13/8) waktu setempat, Kantor Perwakilan Dagang AS mengatakan pemerintahan Trump akan menunda tarif 10 persen untuk barang-barang tertentu asal China, termasuk laptop dan ponsel, yang sedianya akan mulai diberlakukan pada 1 September.

Keputusan itu diumumkan hanya beberapa menit setelah Kementerian Perdagangan China menyatakan bahwa Wakil Perdana Menteri Liu He telah berkomunikasi dengan para pejabat perdagangan AS.

Liu beserta Kepala Perwakilan Perdagangan Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin setuju untuk berbicara lagi melalui telepon dalam dua pekan ke depan, menurut kementerian itu. Sementara itu, Trump mengatakan kedua pihak masih akan bertemu pada awal September sesuai jadwal.

Penundaan tarif pada bagian substansial dari daftar impor China yang tersisa senilai US$300 miliar membuat bursa saham AS melonjak pada perdagangan Selasa (13/8), setelah melemah dalam sepekan terakhir.

Meski penundaan itu mengangkat perdagangan aset-aset berisiko, sejumlah analis memperingatkan bahwa optimisme sudah memudar karena tidak ada solusi cepat untuk sengketa perdagangan yang telah mengancam pertumbuhan ekonomi global.

Bentrokan yang semakin keras antara pengunjuk rasa dan pihak kepolisian di Hong Kong, kekhawatiran tentang keluarnya Inggris dari Uni Eropa tanpa kesepakatan, dan ketegangan Timur Tengah dapat kembali memicu penghindaran risiko dan berdampak pada mata uang utama.

"Jika kita hanya memikirkan Amerika Serikat dan China, akan ada lebih banyak ruang untuk kenaikan dolar AS dan penurunan yen, tetapi ini tidak berarti friksi perdagangan telah diselesaikan,” jelas Tohru Sasaki, kepala riset pasar Jepang di JP Morgan Securities, Tokyo.

"Masih ada banyak risiko geopolitik, seperti Hong Kong, Brexit, dan situasi Iran. Saya tidak mengharapkan pergerakan signifikan (untuk aset berisiko),” tambahnya, dikutip dari Reuters.

Seiring dengan menguatnya yen, indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang melacak pergerakan mata uang dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia, terpantau terkoreksi tipis 0,059 poin atau 0,06 persen ke level 97,753 pada pukul 10.01 WIB.

Pada perdagangan Selasa (13/8/2019), pergerakan indeks mampu berakhir di zona hijau dengan penguatan 0,44 persen atau 0,432 poin di level 97,812.

Sebagai aset safe haven, yen kerap diburu investor di tengah kondisi kekhawatiran dan ketidakpastian geopolitik. Hampir sepanjang Agustus, popularitas yen terdongkrak faktor-faktor seperti tensi perdagangan AS-China dan prospek pelonggaran moneter lebih lanjut oleh Federal Reserve AS.

Mata uang Negeri Sakura ini memperoleh dorongan lebih lanjut dari memanasnya aksi unjuk rasa di Hong Kong. Dua hari belakangan, bandara internasional negara ini ditutup untuk penerbangan setelah ribuan demonstran mengepungnya.

Sementara itu, hasil pemilihan pendahuluan di Argentina yang menempatkan pihak oposisi sebagai unggulan, mengakibatkan jatuhnya nilai tukar mata uang peso, bursa saham, dan obligasi negara, sekaligus menambah dukungan bagi yen.

Kekhawatiran tentang kemungkinan kembali ke kebijakan intervensionis mencengkeram pasar setelah Presiden Argentina Mauricio Macri kehilangan margin yang lebih dalam dari perkiraan atas oposisinya, Alberto Fernandez, dalam pemilihan pendahuluan pada Minggu (11/8/2019) waktu setempat.

 “Aksi penghindaran risiko pada pasar yang disebabkan peristiwa di Hong Kong dan Argentina mendorong permintaan untuk yen. Spekulan meningkatkan posisi buy pada yen,” ujar Yukio Ishizuki, pakar strategi mata uang senior di Daiwa Securities.

“Tidak ada tanda-tanda penguatan yen akan mereda. Target berikutnya adalah level tertinggi yen yang dicapai terhadap dolar AS pada awal Januari,” tambah Ishizuki.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
yen, perang dagang AS vs China

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top