Longsor Dua Hari, IHSG & Rupiah Langsung Tancap Gas

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses mempertahankan reboundnya dan ditutup naik tajam pada perdagangan hari ini, Rabu (14/8/2019), bersama nilai tukar rupiah.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 14 Agustus 2019  |  17:07 WIB
Longsor Dua Hari, IHSG & Rupiah Langsung Tancap Gas
Pengunjung menggunakan ponsel di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di BEI, Jakarta, Selasa (11/6/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses mempertahankan reboundnya dan ditutup naik tajam pada perdagangan hari ini, Rabu (14/8/2019), bersama nilai tukar rupiah.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup menanjak 0,91 persen atau 56,37 poin di level 6.267,33 dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Selasa (13/8), IHSG berakhir di level 6.210,96 dengan melemah 0,63 persen atau 39,63 poin, pelemahan hari kedua berturut-turut. Indeks mulai bangkit dari pelemahannya dengan dibuka naik 0,72 persen atau 44,55 poin di level 6.255,51 pagi ini.

Sebelum mengakhiri pergerakannya, tenaga IHSG terpantau sempat mengendur. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level 6.240,2 – 6.274,57.

Tujuh dari sembilan sektor berakhir di wilayah positif, dipimpin properti (+2,01 persen) dan industri dasar (+1,52 persen). Adapun sektor pertanian dan aneka industri masing-masing turun 0,17 persen dan 0,05 persen.

Dari 651 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 250 saham menguat, 161 saham melemah, dan 240 saham stagnan.

Dua saham emiten bank yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang masing-masing naik 2,04 persen dan 1,17 persen menjadi pendorong utama penguatan IHSG.

Laba bersih PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. dilaporkan meningkat menjadi Rp16,16 triliun pada semester I/2019 dari Rp14,9 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Sejalan dengan IHSG, nilai tukar rupiah berhasil rebound dan ditutup menguat 80 poin atau 0,56 persen di level Rp14.245 per dolar AS, setelah tertekan dua hari beruntun sebelumnya.

Rata-rata indeks saham lainnya di Asia juga berakhir menguat, di antaranya indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang sebesar 0,98 persen dan 0,87 persen masing-masing, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan menguat 0,65 persen.

Di China, dua indeks saham utamanya Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing naik 0,42 persen dan 0,45 persen. Adapun indeks Hang Seng Hong Kong berakhir naik tipis 0,08 persen.

Dilansir dari Bloomberg, secara keseluruhan bursa Asia mampu rebound dan menguat setelah pemerintah AS menyatakan akan menunda tarif pada beberapa produk China.

Sentimen pasar sebelumnya telah terbebani meningkatnya tanda-tanda bahwa Amerika Serikat dan China tidak akan menyelesaikan konflik perdagangan mereka dalam waktu dekat.

Pasar terpukul dengan turbulensi lebih lanjut oleh hasil pemilihan pendahuluan di Argentina yang membawa keunggulan pihak oposisi serta aksi unjuk rasa ribuan demonstran yang memaksa lumpuhnya Bandara Internasional Hong Kong.

Namun pada Selasa (13/8) waktu setempat, Kantor Perwakilan Dagang AS mengatakan pemerintahan Presiden Donald Trump akan menunda tarif 10 persen untuk barang-barang tertentu asal China, termasuk laptop dan ponsel, yang sedianya akan mulai diberlakukan pada 1 September.

Pemerintah China kemudian mengatakan akan tetap berpegang pada rencana perundingan perdagangan pada September dengan AS. Para pelaku pasar merespons optimistis hal ini, dengan ketiga indeks saham utama AS berakhir naik tajam pada perdagangan Selasa (13/8).

“Kabar hari ini jelas baik. Minat untuk aset berisiko telah meningkat secara drastis," ujar Candice Bangsund, manajer portofolio dan pakar strategi alokasi aset global di Fiera Capital, Montreal, dilansir dari Reuters.

Kendati sentimen positif itu menopang aset-aset berisiko, keresahan pasar tetap tampak apalagi setelah data penjualan ritel dan data produksi industri China dilaporkan meleset dari perkiraan. Bursa saham China dan Hong Kong pun harus rela melepas sebagian penguatannya hari ini.

Menurut data Biro Statistik Nasional (NBS) China yang dirilis hari ini, Rabu (14/8/2019), produksi industri naik 4,8 persen pada Juli 2019 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Raihan ini lebih rendah dari estimasi median sebesar 6 persen.

Data NBS juga menunjukkan penjualan ritel berekspansi 7,6 persen pada April, lebih kecil dari proyeksi kenaikan 8,6 persen. Adapun investasi aset tetap melambat menjadi 5,7 persen sepanjang tujuh bulan pertama tahun ini, 0,1 persen lebih rendah dari perkiraan.

Sementara itu, bursa Eropa tergelincir menyusul rilis data yang menunjukkan kontraksi ekonomi Jerman pada kuartal kedua tahun ini. Produk Domestik Bruto (PDB) Jerman turun 0,1 persen q-o-q, setelah mampu tumbuh 0,4 persen pada kuartal I/2019.

"Investor sekarang harus menyadari bahwa keadaan bisa berubah menjadi lebih buruk di masa mendatang,” ujar Zhang Gang, pakar strategi Central China Securities Co.

“Perkembangan perdagangan saja tidak akan cukup untuk mendorong rebound saham jika ekonomi tidak menunjukkan tanda-tanda stabilisasi,” tambahnya.

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

Kenaikan (persen)

BMRI

+2,04

BBRI

+1,17

POLL

+24,00

UNVR

+1,41

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

Penurunan (persen)

BBCA

-0,08

MDIA

-8,44

LIFE

-3,58

MPRO

-5,19

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top