Raih Dana Segar US$280 Juta, Lippo Karawaci (LPKR) Bayar Utang

Lippo Karawaci (LPKR) memperoleh dana segar senilai US$280 juta dari pemegang saham. Dana tersebut akan digunakan untuk memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 21 Maret 2019  |  19:25 WIB
Raih Dana Segar US$280 Juta, Lippo Karawaci (LPKR) Bayar Utang
CEO Lippo Karawaci John Riady saat berkunjung ke kantor Bisnis Indonesia, di Jakarta, Selasa (19/3/2019). - Bisnis/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - PT Lippo Karawaci Tbk. memperoleh dana segar senilai US$280 juta dari pemegang saham. Dana tersebut akan digunakan untuk memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek.

CEO Lippo Karawaci John Riady mengungkapkan, dana segar tersebut diperoleh dari pemegang saham yakni PT Inti Anugerah Pratama (IAP) dalam bentuk tunai. Dana yang diperoleh IAP kepada LPKR merupakan pembayaran atas persetujuan pemesanan saham LPKR dalam right issue.

“Penyelesaian advanced subscription menandai langkah pertama yang penting dari program pendanaan, dan akan memperkuat komitmen kami terhadap transformasi strategis LPKR," tulisnya dalam keterangan resmi, Kamis (21/3/2019).

Saat melakukan kunjungan ke Redaksi Bisnis Indonesia, John menegaskan, sumber pendanaan senilai US$1,02 miliar akan membantu perseroan dalam menyelesaikan persoalan likuiditas dan neraca keuangan.

Persoalan likuiditas, sebenarnya telah dihadapi dalam dua tahun terakhir. Atas kondisi tersebut, lembaga rating internasional pun sempat menurunkan rating dan outlook LPKR.

Dia mengungkapkan, total kewajiban yang harus dilunasi mencapai US$900 juta. "Pendanaan kami senilai US$1.000 juta. Total utang kami sekitar US$900 juta, jadi urusan likuiditas selesai," ungkapnya.

John menambahkan, pendanaan ini sekaligus akan memastikan proyek-proyek yang telah dimulai bisa selesai sesuai dengan waktu yang tetapkan, termasuk Meikarta.

Lebih rinci, program pendanaan senilai U$1,01 miliar terdiri dari dana right issue senilai US$730 juta, yang dijamin penuh oleh Keluarga Riady dan divestasi aset senilai US$280 juta.

Aset yang didivestasi adalah 40% saham di Yoma Siloam Hospital Pun Hlaing Limited dan 35% saham di Pun Hlaing International Hospital Limited kepada OUE Lippo Healthcare Limited. Penjualan ini ditargetkan bisa mengantongi dana segar sebesar US$20 juta, pada semester I/2019.

Lalu, LPKR menandatangani perjanjian jual beli bersyarat dengan Lippo Malls Indonesia Retail Trust (LMIRT). LPKR setuju untuk menjual komponen ritel Lippo Mall Puri (Puri Mall) dengan total nilai penjualan US$260 juta, pada semester II/2019.

"[Divestasi aset] Tujuannya adalah untuk mekanisme recycle capital, karena kami sangat capital intensif. Balik modal bisnis properti bisa lama, dengan waktu 15 tahun--20 tahun. Namun, dengan REITS maka mal bisa dijual dan dananya digunakan untuk investasi lagi," ungkap John.

Setelah LPKR mengumumkan pencarian dana jumbo. Lembaga pemeringkat internasional kompak mengamati ulang dan mengubah outlook dan peringkat.

Misalnya, Moody's Investor Service yang mengubaj prospek peringkat LPKR dari negatif menjadi stabil. Alasannya, karena likuiditas LPKR bakal membaik setelah right issue dan pendanaan tersebut menunjukkan komitmen Keluar Riady komitmen mendukung LPKR.

Fitch Ratings juga menyematkan peringkat nasional jangka panjang BB- pada rating watch positif (RWP) dan peringkat issuer default rating jangka panjang CCC+ pada LPKR. Fitch menilai, RWP telah mencerminkan adanya tambahan ekuisitas baru dari pendanaan LPKR.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, lippo karawaci, lpkr

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top