Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah kembali terpuruk setelah kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump dan keputusan OPEC+ untuk menaikkan produksi lebih cepat dari rencana awal memicu gejolak pasar terbesar sejak 2022.
Melansir Bloomberg, Jumat (4/4/2025), harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni melemah 0,2% menjadi US$70,01 per barel pada pukul 07.26 WIB. Adapun harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei melemah 0,2% ke level US$66,80 per barel.
Beberapa jam setelah pengumuman tarif baru dari Trump menimbulkan ketidakpastian terhadap prospek ekonomi global, OPEC dan sekutunya mengumumkan kenaikan produksi untuk Mei sebesar tiga kali lipat dari rencana awal.
Para delegasi menyebut langkah ini sebagai strategi sengaja untuk menekan harga dan menghukum anggota yang memproduksi di atas kuota mereka.
Kombinasi kebijakan ini mengguncang pasar minyak, namun berpotensi menguntungkan Trump, yang selama ini vokal mengkritik tingginya harga minyak.
Meski penurunan harga dapat membantu meredakan tekanan inflasi bagi bank sentral, kondisi ini juga mencerminkan kekhawatiran lebih luas terhadap prospek pertumbuhan ekonomi, yang telah mendorong banyak perusahaan energi memangkas proyeksi mereka dalam beberapa pekan terakhir.
Baca Juga
Analis PVM Oil Associates Ltd. Tamas Varga mengatakan sentimen dari tarif AS dan OPEC menjadi kombinasi bearish yang sempurna bagi harga minyak.
“Tarif balasan terhadap hampir seluruh mitra dagang utama AS memicu ketakutan akan resesi, bahkan stagflasi. Prospek pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak semakin tertekan,” jelasnya seperti dikutip Bloomberg.
Sejak Trump menjabat, pasar minyak terus mengalami turbulensi akibat berbagai faktor yang saling bertentangan.
Sanksi AS terhadap Rusia, Iran, dan Venezuela berpotensi memperketat pasokan, namun perang dagang global yang semakin memanas bisa menghambat pertumbuhan permintaan. Di sisi lain, lemahnya konsumsi minyak di China juga menjadi faktor negatif bagi pasar.