Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Minyak Turun Tipis usai Trump Ditembak saat Kampanye di AS

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus 2024 melemah 0,26% menjadi US$82 per barel pada pukul 07.37 WIB.
Kilang minyak Petroleos de Venezuela SA (PDVSA) Amuay di Kompleks Kilang Paraguana di Punto Fijo, Negara Bagian Falcon, Venezuela, pada hari Sabtu, 19 Agustus 2023./Bloomberg
Kilang minyak Petroleos de Venezuela SA (PDVSA) Amuay di Kompleks Kilang Paraguana di Punto Fijo, Negara Bagian Falcon, Venezuela, pada hari Sabtu, 19 Agustus 2023./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Walau mengalami penurunan, tren harga minyak telah stabil setelah adanya percobaan pembunuhan terhadap mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, sehingga menyoroti risiko geopolitik. Sidang Pleno Ketiga China juga dimulai pada Senin (15/7/2024). 

Berdasarkan data Bloomberg pada Senin (15/7/2024), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus 2024 melemah 0,26% menjadi US$82 per barel pada pukul 07.37 WIB. 

Sementara itu, kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman September 2024 juga melemah 0,26% menjadi US$84,81 per barel.

Harga minyak mentah WTI telah diperdagangkan di atas US$82 per barel. Minyak mentah Brent juga diperdagangkan mendekati US$85 per barel setelah memangkas kenaikan awal. 

Serangan pada Trump kemudian juga menambah ketidakpastian baru dari pemilihan presiden Negeri Paman Sam. Dolar juga bergerak lebih tinggi, hambatan bagi komoditas yang dihargai dengan dolar, termasuk minyak. 

Sepanjang tahun ini harga minyak tetap tinggi, dibantu oleh pembatasan produksi OPEC+ dan permintaan bahan bakar yang lebih kuat selama musim panas di Belahan Bumi Utara. 

Sidang Pleno Ketiga Partai Komunis China, juga akan menentukan prioritas ekonomi dan politik negara tersebut, akan diamati secara ketat untuk mengetahui arah pertumbuhan di negara importir minyak mentah terbesar di dunia. 

Kemudian, minat China pada komoditas, mulai dari minyak mentah hingga kedelai, telah menurun selama enam bulan pertama tahun ini. Hal ini menimbulkan kekhawatiran pada permintaan, seiring melambatnya pertumbuhan ekonomi mereka. 

Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan perlambatan China mungkin akan menekan pertumbuhan konsumsi minyak global, meskipun OPEC memiliki pandangan yang lebih optimis.

Sebelumnya, pada Jumat (12/7) harga minyak berjangka ditutup sedikit lebih rendah karena investor mempertimbangkan sentimen konsumen AS yang melemah dibandingkan meningkatnya harapan penurunan suku bunga The Fed pada September 2024. 

Dalam sepekan, harga minyak mentah WTI telah menurun sebesar 1,1% dan minyak mentah Brent turun lebih dari 1,7%, setelah selama empat minggu mengalami kenaikan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Sumber : Bloomberg, Reuters
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper