Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp16.046, Dolar AS Perkasa

Rupiah ditutup melemah pada Selasa (7/5/2024) dan menyentuh level Rp16.046. Pada saat yang sama, greenback terpantau mencatatkan penguatan.
Karyawan menunjukan uang tunai di Cash Center PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), Jakarta, Kamis (14/3/2024). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan uang tunai di Cash Center PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), Jakarta, Kamis (14/3/2024). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada Selasa (7/5/2024) dan menyentuh level Rp16.046. Pada saat yang sama, greenback terpantau mencatatkan penguatan.

Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 20,50 poin atau 0,13% menuju level Rp16.046 per dolar AS. Adapun indeks dolar AS menguat 0,14% ke posisi 105,19.

Sementara itu, mata uang lain di Asia mayoritas melemah. Yen Jepang, misalnya, melemah 0,12%, diikuti won Korea sebesar 0,06%. Adapun yuan China juga melemah sebesar 0,09%, lalu peso Filipina dan baht Thailand melemah 0,02% serta 0,05%.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menyampaikan fokus pekan ini bertumpu pada komentar pejabat The Fed terkait dengan jalur suku bunga, terutama usai data nonfarm payrolls yang lebih lemah dari perkiraan. Pelaku pasar pun memperkirakan adanya peluang penurunan suku bunga oleh bank sentral.

“Namun, gagasan ini tidak memberikan banyak dukungan terhadap mata uang Asia, mengingat The Fed masih diperkirakan akan mulai menurunkan suku bunganya pada September,” ujar Ibrahim dalam publikasi riset, Selasa (7/5/2024).

Menurut Ibrahim, pasar saat ini menantikan data terkait inflasi Jepang dan pertumbuhan upah guna mengukur langkah Bank of Japan (BOJ) dalam mengerek suku bunga, yang diharapkan memberi sedikit keringanan terhadap mata uang negara tersebut.

Dari dalam negeri, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan posisi utang pemerintah mencapai Rp8.262,10 triliun sampai dengan akhir Maret 2024. Nilai ini setara 38,79% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

“Posisi utang tersebut menurun jika dibandingkan dengan posisi pada Februari 2024 yang tercatat sebesar Rp8.319,2 triliun, setara dengan 39,06% terhadap PDB,” kata Ibrahim.

Adapun rasio utang Maret 2024 terjaga di bawah batas aman 60% PDB sesuai UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Posisi tersebut juga lebih baik dari penerapan Strategi Pengelolaan Utang Jangka Menengah tahun 2024-2027 di kisaran 40%.

Secara rinci, mayoritas utang pemerintah berasal dari dalam negeri dengan proporsi 71,52%. Hal ini sejalan dengan kebijakan umum pembiayaan utang untuk mengoptimalkan sumber pembiayaan dalam negeri dan memanfaatkan utang luar negeri sebagai pelengkap.

Di sisi lain, berdasarkan instrumen, komposisi utang pemerintah sebagian besar berupa Surat Berharga Negara (SBN) yang mencapai 88,05%. Per akhir Maret 2024, lembaga keuangan memegang sekitar 43,4% kepemilikan SBN domestik, terdiri atas perbankan sebesar 24,8% serta perusahaan asuransi dan dana pensiun 18,6%. 

Sementara itu, kepemilikan SBN domestik oleh Bank Indonesia sebesar 21,3%, antara lain digunakan sebagai instrumen pengelolaan moneter. Sedangkan asing memiliki SBN domestik sekitar 14,2%, termasuk kepemilikan pemerintah dan bank sentral asing.

Pada perdagangan besok, Ibrahim memperkirakan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif, tetapi ditutup menguat pada rentang Rp16.000 hingga Rp16.080 per dolar AS. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper