Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Komoditas Hari Ini (6/5): Emas dan CPO Loyo dalam Sepekan, Batu Bara Menguat

Harga CPO berjangka pada perdagangan Jumat (3/5) kontrak Juli 2024 melemah -4 poin ke 3.842 ringgit per ton di Bursa derivatif Malaysia.
Ilustrasi emas batangan. Dok Bloomberg
Ilustrasi emas batangan. Dok Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA -- Harga emas dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) mencatatkan pelemahan pada minggu yang baru saja telah berakhir. Sedangkan, komoditas batu bara mencatatkan penguatan. 

Berdasarkan data Bloombergharga batu bara kontrak Mei 2024 di ICE Newcastle ditutup melemah -1,76% pada level US$145,15 per metrik ton pada perdagangan Jumat (3/5/2024). Dalam sepekan, kontrak ini telah menguat sebesar 7,92%.

Kemudian, batu bara kontrak Juli 2024 juga melemah -1,46% ke US$145.60 per metrik ton. Dalam sepekan, kontrak ini telah menguat 4,26% dalam sepekan. 

Mengutip EnergyworldKementerian perdagangan India mengatakan produksi mineral telah meningkat 8% pada Februari 2024 dibandingkan periode tahun lalu. Batu bara yang menjadi salah satu mineral yang menunjukan pertumbuhan positif  sebesar 12% jika dibandingkan Februari 2023. 

Kemudian, dilaporkan juga bahwa produksi batu bara India pada April 2024 mencapai sebesar 78,69 juta metrik ton, meningkat 7,41% dari tahun sebelumnya. 

Mengutip Reuterspara menteri energi dari G7 berjanji untuk menutup pembangkit listrik tenaga batu bara mereka pada paruh pertama tahun 2030an. Negara-negara tersebut juga dapat memilih tanggal yang konsisten untuk menjaga batas kenaikan suhu global sebesar 1,5 derajat celsius.

Perjanjian ini juga menjadi langkah signifikan dari KTT iklim PBB COP28 pada tahun lalu untuk menghapus bahan bakar fosil. Adapun, batu bara menjadi bahan yang paling menimbulkan polusi. 

Harga Emas

Berdasarkan data Bloomberg, harga emas di pasar spot ditutup melemah -0,09% ke level US$2.301,75 per troy ounce pada penutupan perdagangan Jumat (3/5). Dalam sepekan, harga emas di pasar spot telah melemah sekitar -1,49%.

Kemudian, harga emas Comex kontrak Juni 2024 juga melemah -0,04% ke level US$2.308,60 per troy ounce, dan telah melemah -1,64% dalam sepekan. 

Harga emas telah tergelincir pada Jumat (3/5/2024) dengan para pedagang membukukan keuntungan ketika menilai arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) yakni Federal Reserve (The Fed). 

Diketahui bahwa pengusaha di AS mengurangi jumlah pekerja pada April 2024 dan tingkat pengangguran meningkat secara tak terduga. Hal ini menunjukan adanya pendinginan di pasar tenaga kerja setelah awal tahun yang kuat. 

Data tersebut kemudian menimbulkan kembali dugaan bahwa The Fed dapat mulai memangkas suku bunga pada tahun ini. Pedagang swap juga menggeser perkiraan taruhan untuk pemangkasan suku bunga pertama oleh Federal Reserve dari bulan Desember menjadi bulan September.

Pada tahun ini emas batangan juga tetap naik 12%, setelah mencapai rekor kenaikan yang membuat emas batangan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada April 2024. 

Harga CPO

Harga komoditas minyak kelapa sawit atau CPO berjangka pada perdagangan Jumat (3/5) kontrak Juli 2024 melemah -4 poin ke 3.842 ringgit per ton di Bursa derivatif Malaysia. Dalam sepekan, kontrak ini telah melemah sebesar -0,77%.

Kontrak Juni 2024 juga ditutup melemah -6 poin menjadi 3.868 ringgit per ton. Kontrak ini telah melemah -1,20% dalam sepekan. 

Menurut survei Reuters, persediaan minyak sawit Malaysia kemungkinan akan semakin menyusut pada April 2024 dan mencaai titik terendah dalam setahun karena konsumsi lokal yang meningkat di tengah tingginya permintaan.

Adapun, menurut perkiraan median dari 10 pedagang, pekebun dan analis yang disurvei, stok minyak sawit di Malaysia terlihat menurun selama enam bulan berturut-turut  menjadi 1,68 juta metrik ton, menurun 2% secara bulanan. 

Ekspor produk minyak sawit diperkirakan menurun 7,79% secara bulanan menjadi 1,22 juta ton di tengah persaingan harga yang ketat dengan minyak nabati lainnya, terutama minyak bunga matahari. 

“Namun, koreksi harga minyak sawit yang terjadi baru-baru ini menyebabkan harga minyak sawit berkurang nilai tambahnya jika dibandingkan minyak lunak, dan menjadikannya lebih murah yang dapat menarik pembelian baru dari pasar tujuan,” Jelas kepala penelitian komoditas di Sunvin Group yang berbasis di Mumbai, Anilkumar Bagani. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper