Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Emiten CPO Grup Triputra (TAPG) Cetak Laba Bersih Rp1,6 Triliun di 2023

Emiten CPO Grup Triputra, PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) mencetak laba bersih Rp1,6 triliun sepanjang tahun 2023.
Emiten CPO Grup Triputra, PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) mencetak laba bersih Rp1,6 triliun sepanjang tahun 2023./Willy Kurniawan
Emiten CPO Grup Triputra, PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) mencetak laba bersih Rp1,6 triliun sepanjang tahun 2023./Willy Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten CPO Grup Triputra PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) mencatatkan penurunan pendapatan dan laba bersih pada tahun 2023. TAPG mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,6 triliun pada 2023.

Berdasarkan laporan keuangannya, TAPG mencatatkan pendapatan sebesar Rp8,32 triliun pada 2023. Pendapatan ini turun 10,91% dibandingkan tahun 2022 yang sebesar Rp9,34 triliun.

Pendapatan ini dikontribusi dari pendapatan produk kelapa sawit dan turunannya sebesar Rp8,3 triliun dan pendapatan produk karet sebesar Rp23,2 miliar.

Meski pendapatan turun, beban pokok penjualan TAPG tercatat meningkat 8,51% menjadi Rp6,1 triliun pada 2023, dari 2022 yang sebesar Rp5,62 triliun.

Hal tersebut membuat laba bruto TAPG tergerus menjadi Rp2,21 triliun atau turun 40,33% secara tahunan dari Rp3,7 triliun di 2022.

Alhasil, laba bersih TAPG ikut turun menjadi Rp1,6 triliun di 2023. Laba bersih ini turun 46,05% dibandingkan tahun 2022 sebesar Rp2,98 triliun.

Manajemen TAPG menjelaskan peningkatan signifikan dalam biaya produksi karena harga pupuk menyebabkan penurunan EBITDA dan laba bersih TAPG pada 2023.

Adapun sepanjang tahun 2023, TAPG mencatatkan produksi CPO sebesar 977.652 ton. Produksi CPO ini turun 2% dibandingkan tahun 2022 sebesar 999.043 ton.

TAPG memandang produksi CPO secara global tidak akan meningkat secara signifikan di 2024. TAPG memperkirakan akan terdapat peningkatan produksi CPO pada digit tunggal untuk tahun 2024.

Sebelumnya, Corporate Secretary TAPG Joni Tjeng mengatakan TAPG beserta perusahaan asosiasinya menargetkan produksi CPO sebesar 223.000 ton di kuartal I/2024.

Joni menjelaskan berdasarkan data Thomas Mielke, produksi CPO pada kuartal I/2024 mengalami penurunan yang memaksa stok palm oil global turun hingga 1,2 juta ton.

"Meskipun terjadi penurunan di kuartal I/2024, perseroan memprediksi produksi CPO masih akan ada sedikit pertumbuhan produksi di tahun 2024. Karena meskipun masih terdapat efek el-nino di tahun 2023 namun iklim 2024 diperkirakan cenderung netral," kata Joni kepada Bisnis, Kamis (7/3/2024).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper