Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

LPEM UI: Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Tahun Ini Masih Optimistis 5%

LPEM UI menilai perekonomian Indonesia diprediksikan dapat tumbuh didukung oleh konsumsi dan belanja terkait pemilihan umum atau pemilu 2024.
Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Gedung bertingkat dan lalu lintas di jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan. JIBI/Feni Freycinetia
Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Gedung bertingkat dan lalu lintas di jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan. JIBI/Feni Freycinetia

Bisnis.com, JAKARTA – Perekonomian Indonesia diprediksikan dapat tumbuh didukung oleh konsumsi dan belanja terkait pemilihan umum atau pemilu 2024.

Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia, Teuku Riefky memaparkan bahwa memasuki 2024, risiko global yang lebih tinggi melalui harga komoditas, kenaikan biaya logistik, dan melemahnya permintaan global dan pertumbuhan ekonomi mitra dagang dapat menimbulkan beberapa risiko pertumbuhan bagi Indonesia.

Di sisi lain, perekonomian Indonesia dapat tumbuh didukung oleh didukung oleh konsumsi dan belanja terkait pemilihan umum atau pemilu 2024. Tak hanya itu, Bank Indonesia, sebutnya juga diperkirakan memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga, sehingga berpotensi meningkatkan aktivitas perekonomian lebih lanjut.

“Oleh karena itu, kami mempertahankan pandangan kami sebelumnya bahwa perekonomian Indonesia akan tumbuh sebesar 5,0% secara tahunan pada 2024,” ujarnya dalam paparan tertulisnya, Jumat (9/2/2024).

Di sisi lain, risiko global masih ada dan mungkin meningkat pada tahun 2024. Dalam hal risiko geopolitik, konflik di Timur Tengah dapat meningkat lebih jauh ke wilayah yang lebih luas yang mencakup beberapa negara eksportir minyak dan gas terbesar di dunia.

Dengan demikian, hal tersebut dapat menimbulkan risiko potensi harga minyak dan gas yang lebih tinggi di kemudian hari. Serangan di Laut Merah, yang berfungsi sebagai jalur bagi 11% arus perdagangan global, meningkatkan biaya logistik dan impor.

Risiko geopolitik ini dapat mempunyai implikasi serius terhadap pengelolaan inflasi domestik melalui inflasi impor. Selain itu, melemahnya pertumbuhan Tiongkok memberikan tekanan tambahan pada berkurangnya surplus perdagangan Indonesia karena Tiongkok merupakan mitra dagang utama Indonesia, baik dari sisi ekspor maupun impor.

Tanpa melakukan diversifikasi perdagangan luar negeri secara signifikan, pertumbuhan Indonesia mungkin akan terkena dampak negatif dari lemahnya pertumbuhan Tiongkok. Di sisi lain, potensi penurunan suku bunga The Fed dapat memicu apresiasi Rupiah dan mengurangi tekanan inflasi impor.

Hal ini juga akan memberikan ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga tanpa mengancam upayanya dalam mencapai target inflasi.

Selain itu, menurutnya, Indonesia sangat membutuhkan sumber pertumbuhan baru. Hal ini terlihat dari kinerja pertumbuhan ekonomi yang sangat bergantung pada siklus bisnis dan harga komoditas. Menyusul pelemahan harga komoditas dan berlalunya musim liburan pada kuartal sebelumnya, PDB Indonesia hanya tumbuh sebesar 4,94% (y-o-y) pada kuartal III/2023 dan tercatat sebagai pertumbuhan triwulanan terendah sejak kuartal IV/2026.

Data tersebut dengan mengesampingkan periode Covid-19 pada 2020 dan 2021. Selain itu, Indonesia mempunyai cita-cita untuk menjadi negara maju yang masyarakatnya berpendapatan tinggi pada 2045. Hal ini memerlukan pertumbuhan ekonomi yang jauh melampaui tingkat saat ini.

Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan reindustrialisasi dan peningkatan produktivitas yang signifikan. Namun, proses reindustrialisasi dan peningkatan produktivitas merupakan proses jangka menengah dan panjang karena sifat strukturalnya dalam perekonomian.

Oleh karena itu, reformasi struktural perlu terus dilakukan dan tetap menjadi prioritas bagi pembuat kebijakan. Pemilihan umum mendatang akan menghasilkan pemerintahan baru dan pemerintahan berikutnya tidak boleh kehilangan fokus pada isu produktivitas dan reindustrialisasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Pandu Gumilar
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper