Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wall Street Beragam Jelang Pidato Bos The Fed, Pasar Tak Cemas Lagi

Indikator pengukur rasa takut atau volatilitas Wall Street yang disebut VIX mengalami penurunan terpanjang sejak Oktober 2015.
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg/Michael Nagle
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg/Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat di Wall Street, New York ditutup beragam pada akhir perdagangan Rabu (8/11/2023) waktu setempat. Reli saham pada November tampak memudar lantaran para investor menunggu pidato dari Ketua Federal Reserve Jerome Powell terkait arah suku bunga acuan.

Berdasarkan data Bloomberg, Kamis (9/11/2023), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 0,12% atau 40,33 poin ke 34.112,27, sementara S&P 500 naik 0,10% atau 4,40 poin ke 4.382,78, dan Nasdaq menanjak 0,08% atau 10,56 poin ke 13.650,41.

Di tengah tanda-tanda jenuh beli investor, S&P 500 yang hanya menguat 0,1% masih mencatatkan kenaikan kedelapan berturut-turut. Indikator “pengukur rasa takut” Wall Street atau yang disebut VIX mengalami penurunan terpanjang sejak Oktober 2015.

Adapun imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor sepuluh tahun turun di bawah 4,5% setelah lelang surat utang senilai US$40 miliar.

Penjualan obligasi AS memberikan pengaruh yang semakin besar terhadap saham. Hal ini berdasarkan data Citigroup Inc. yang menunjukkan S&P 500 telah bergerak sekitar 1% ke segala arah pada hari lelang sejak awal tahun 2022, melampaui rata-rata dekade sebelumnya. Analisis Citigroup membuat para pedagang waspada terhadap penjualan obligasi teno 30 tahun senilai US$24 miliar pada hari Kamis.

Wall Street juga terus mencermati pidato para anggota Fed. Berbicara singkat pada Rabu (8/11/2023), Powell tidak mengomentari prospek suku bunga. Dia akan memiliki lebih banyak waktu untuk mengungkapkan pandangannya pada Kamis dalam panel mengenai tantangan kebijakan.

“Akan menarik untuk mendengar apakah dia membuat komentar mengenai pergerakan suku bunga jangka panjang baru-baru ini. Jika nadanya sedikit lebih hawkish dibandingkan minggu lalu, hal itu bisa saja terjadi, dan menjadi katalis untuk pasar yang kami pikir bisa terjadi,” kata Matt Maley dari Miller Tabak + Co.

Sementara itu, pedagang swap memperkirakan hampir tidak ada peluang kenaikan suku bunga pada Desember 2023, dan memperkirakan tingkat suku bunga acuan The Fed saat ini yang sekitar 5,25% hingga 5,5% akan menandai puncak siklus pengetatan moneter.

Senior analis pasar Oanda Craig Erlam mengatakan bahkan jika bank sentral berpandangan bahwa suku bunga bisa turun tahun depan, tidak realistis mengharapkan mereka mengatakannya pada saat ini karena akan membingungkan dan melemahkan pesan mereka bahwa suku bunga harus tetap lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama.

“Kami terus melihat perdagangan yang lesu di pasar saham pada Rabu, dengan investor berjuang melawan komentar hawkish dari bank sentral terhadap ekspektasi ekonomi yang suram dan spekulasi seputar penurunan suku bunga tahun depan,” kata Erlam.

Ahli strategi UBS Group AG memperkirakan S&P 500 akan berakhir pada tahun 2024 di sekitar 4,600 poin atau menyiratkan kenaikan hanya sekitar 5% dari level saat ini. Prediksi konservatif itu karena mereka melihat pertumbuhan yang lebih lemah akan merugikan pendapatan emiten.

“Margin keuntungan emiten menghadapi hambatan termasuk leverage operasi yang negatif, upah yang kaku, memburuknya kekuatan harga dan meningkatnya beban bunga," tulis Jonathan Golub dan Patrick Palfrey.

Sementara itu, kepala ekonom Hoisington Investment Management Co., Lacy Hunt, melihat penurunan imbal hasil obligasi AS baru-baru ini sebagai awal dari reli yang akan meningkat ketika perekonomian AS mengalami penurunan tajam.

“Untuk pasar obligasi, keadaan tidak menentu karena perekonomian sedang menuju hard landing. Tetapi ini adalah proses yang membutuhkan waktu. Perekonomian AS mempunyai kesulitan yang sangat serius yang akan menghantui kita dalam jangka waktu yang lama di masa depan,” kata Hunt dalam sebuah wawancara di Bloomberg Television.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Farid Firdaus
Editor : Farid Firdaus
Sumber : Bloomberg
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper