Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Prospek Emiten Kertas Sinar Mas TKIM dan INKP Saat Kinerja Keuangan Tertekan

Emiten kertas milik Grup Sinar Mas Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) dan Pabrik Kertas Tjiwi Kimia (TKIM) diyakini mampu bangkit di kuartal IV/2023.
Prospek Emiten Kertas Sinar Mas TKIM dan INKP Saat Kinerja Keuangan Tertekan. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia di Sidoarjo. Pabrik ini mulai beropersi pada 1978 dengan kapasitas tahunan 12,000 metrik ton./tjiwi.co.id
Prospek Emiten Kertas Sinar Mas TKIM dan INKP Saat Kinerja Keuangan Tertekan. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia di Sidoarjo. Pabrik ini mulai beropersi pada 1978 dengan kapasitas tahunan 12,000 metrik ton./tjiwi.co.id

Bisnis.com, JAKARTA – Dua emiten kertas milik Grup Sinar Mas PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk. (TKIM) membukukan penurunan kinerja keuangan per September 2023. Namun demikian para analis masih optimistis terhadap prospek kinerja TKIM dan INKP di sisa tahun. 

Adapun, berdasarkan laporan keuangan yang telah dipublikasikan, INKP membukukan pendapatan sebesar US$2,68 miliar atau setara dengan Rp41,61 triliun (kurs jisdor Rp15.487). Capaian pendapatan per September itu terkoreksi 10,37% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$2,99 miliar. 

Pendapatan INKP tergerus seiring dengan berkurangnya porsi penjualan ekspor dan lokal baik dengan pihak ketiga maupun pihak berelasi. Sepanjang 9 bulan 2023, INKP membukukan penjualan lokal sebesar US$1,10 miliar sedangkan untuk penjualan ekspor tercatat sebesar US$1,56 miliar. 

Meski pendapatan turun, INKP justru membukukan kenaikan beban pokok menjadi US$1,80 miliar atau setara dengan Rp27,88 triliun. Beban ini naik 0,89% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$1,78 miliar.

Alhasil, laba kotor tergerus hingga 26,94% menjadi US$886,43 juta per September 2023 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar US$1,21 miliar. Laba kotor INKP ditekan dengan adanya rugi selisih kurs yaitu sebesar US$29,28 juta. Padahal tahun lalu, INKP mendulang cuan sebanyak US$37,93 juta dari selisih kurs. 

Selaras, laba bersih yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk juga tercatat sebesar US$320,88 juta atau setara Rp4,96 triliun. Laba itu anjlok sampai 50,41% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$647,18 juta. 

Nasib serupa juga dialami TKIM. Emiten kertas yang merupakan anak usaha INKP itu juga mengalami penurunan kinerja keuangan. Sepanjang sembilan bulan 2023, TKIM mencatatkan pendapatan sebesar US$812,63 juta atau setara Rp12,58 triliun. Pendapatan itu terkoreksi 8,21% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$885,38 juta. 

Adapun beban pokok penjualan tercatat sebesar US$712,64 juta atau setara Rp11,03 triliun. Beban ini turun 4,28% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$744,56 juta. 

OPTIMISME KUARTAL IV/2023

Sementara itu untuk selisih kurs, TKIM membukukan kerugian sebesar US$5,37 juta padahal periode tahun lalu TKIM mampu meraup keuntungan sebesar US$41,34 juta. Laba bersih yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk tercatat sebesar US$134,08 juta atau setara Rp2,07 triliun. Laba itu anjlok 61,15% dibandingkan periode kuartal III/2022 sebesar US$345,18 juta. 

Senior Information Investment Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta memproyeksikan kinerja TKIM dan INKP akan kembali terangkat pada kuartal IV/2023 karena tertopang selisih kurs. Dolar yang terapresiasi karena kondisi global dapat dimanfaatkan untuk menggenjot volume ekspor. 

“Setidaknya ekspor bisa dimaksimalkan mengingat terjadi apresiasi dolar AS,” katanya kepada Bisnis, Kamis (2/11/2023). 

Meskipun terdapat potensi penguatan kinerja fundamental, INKP dan TKIM masih harus bersabar karena ada faktor geopolitik yang terjadi yang berkaitan dengan eskalasi konflik bersenjata. Nafan menyebutkan tentu saja hal ini akan memperlambat pertumbuhan ekonomi global dan berimbas pada permintaan produk pulp and paper.

Terlebih China yang menjadi pengimpor produk pulp and paper menunjukkan perlambatan ekonomi terlihat dari indeks manufaktur yang terkontraksi.

Menurut Biro Statistik Nasional China, Indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur menurun menjadi 49,5 pada Oktober 2023 dari 50,2 pada bulan sebelumnya. Angka ini lebih rendah dari perkiraan ekonom yang sebesar 50,2.   Indeks non-manufaktur yang mengukur aktivitas di sektor konstruksi dan jasa, turun menjadi 50,6 dari yang sebelumnya sebesar 51,7. Angka tersebut lebih rendah dari perkiraan sebesar 52.

 

Terpisah, Rating Analyst PT Kredit Rating Indonesia (KRI), Achmad Sudjatmiko dalam risetnya menjelaskan dari sisi supply, walaupun jumlah supply pulp masih lebih tinggi dibandingkan konsumsi pulp dunia, namun pertumbuhan kapasitas produksi pulp terlihat melambat sejak tahun 2017. Hal ini menimbulkan naiknya tingkat rata-rata operating rate meningkat dari 90% menjadi 91% di tahun 2026.

Sedangkan dari sisi harga pulp dunia saat ini sudah mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah sebelumnya turun ke level terendah yaitu di CNY 4.782/ton di Juni 2023, disebabkan oleh tingginya oversupply terutama di wilayah Amerika Utara dan Eropa.

Achmad mengatakan Industri Pulp and Paper memiliki outlook yang positif atau diperkirakan mencapai pangsa pasar sebesar US$387,54 miliar di tahun 2023 dibandingkan dengan US$348,32 miliar di tahun 2022 atau tumbuh sebesar compound annual growth rate (CAGR) 1,07%.

“Berdasarkan volume, konsumsi pulp yang digunakan untuk menghasilkan kertas printing dan writing, serta untuk packaging paper, diestimasikan meningkat dari 408 juta Mt di tahun 2021 menjadi 476 juta Mt di tahun 2032, dengan packaging paper diestimasikan mendominasi penggunaan pulp tersebut,” tulisnya dalam riset, baru-baru ini. 

D luar kinerja keuangan, pada penutupan hari ini dua saham kertas kompak naik. TKIM parkir di level Rp7.375 per saham atau naik 8,46%. Sementara itu, INKP juga menguat 4,26% dan berada di level Rp8.575 per saham.  

Nafan merekomendasikan hold untuk keduanya, dengan target harga TKIM di level Rp8.000 dan INKP di level Rp8.400. 

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Artha Adventy
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper