Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Dibuka Menguat Rp15.577 per Dolar AS, Soroti Dinamika Politik

Nilai tukar rupiah hari ini dibuka menguat 0,36 persen atau 56,5 poin ke posisi Rp15.577 per dolar AS.
Pegawai menunjukan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Senin (18/7/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha
Pegawai menunjukan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Senin (18/7/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada perdagangan hari ini, Kamis (5/10/2023) saat indeks dolar bergerak melemah. Pelaku pasar juga masih wait and see terkait bakal calon wakil presiden (bacawapres) yang akan diumumkan oleh dua kandidat calon presiden (capres) Pemilu 2024. 

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.00 WIB, rupiah menguat 0,36 persen atau 56,5 poin ke posisi Rp15.577 per dolar AS. Sementara itu indeks dolar terpantau melemah sebesar 0,24 persen ke posisi 106,269. 

Adapun sejumlah mata uang kawasan Asia lainnya bergerak bervariasi cenderung menguat. Yen jepang naik 0,54 persen, dolar Hong Kong menguat 0,01 persen, dolar Singapura naik 0,27 persen, dolar Taiwan menguat 0,23 persen, won Korea menguat 1,32 persen, peso Filipina naik 0,18 persen, yuan China menguat 0,19 persen, ringgit Malaysia menguat 0,16 persen dan Bath Thailand menguat 0,26 persen. 

Hanya rupee India yang melemah di hadapan dolar AS sebesar 0,04 persen. 

Sebelumnya Direktur Laba Forexindo berjangka Ibrahim Assuaibi memproyeksikan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan hari ini, Kamis (5/10/2023), tetapi ditutup melemah pada rentang Rp15.620 hingga Rp15.700. 

Hal tersebut disebabkan oleh investor yang mulai mengantisipasi kebijakan moneter restriktif dalam jangka waktu lebih lama. Hal ini dikarenakan ketahanan ekonomi yang luas, sehingga makin memperkuat posisi greenback di pasar mata uang global. 

“Hal tersebut dibarengi dengan pandangan hawkish dari Federal Reserve dan imbal hasil treasury tertinggi dalam 16 tahun,” ujarnya dalam riset yang dipublikasikan, Rabu (4/10/2023). 

Di sisi lain, kenaikan harga minyak yang tidak terkendali dalam beberapa bulan terakhir turut menimbulkan kekhawatiran bagi negara-negara nonpenghasil minyak. Menurutnya, kondisi tersebut akan membuat perekonomian menghadapi beban berat pada akhir tahun ini. 

Dari sisi domestik, Ibrahim memandang pelaku pasar tampak wait and see menunggu kepastian jelang tahun politik. Terlebih, dua dari bakal calon presiden belum mengumumkan siapa yang akan maju sebagai pendamping masing-masing calon. 

“Sikap wait and see ini berkaitan erat dengan kebijakan di masa depan. Pelaku pasar perlu mengetahui kebijakan seperti apa yang kira-kira terjadi di Indonesia ke depan dengan melihat bakal calon presiden ataupun memproyeksi siapa calon terkuat,” tuturnya. 

Sementara itu, PMI Manufaktur Indonesia pada September 2023 berada di level 52,3 atau turun dari posisi Agustus yang berada di 53,9. Meskipun melemah, PMI manufaktur bulan lalu diklaim masih berada di zona ekspansi karena munculnya permintaan baru dan ekspor yang meningkat. Secara keseluruhan sentimen bisnis masih terjaga positif pada September 2023 dengan masing-masing indeks yang berada di atas level 50,0.  

Kendati demikian, pemerintah akan terus memonitor dan memitigasi berbagai risiko dan ketidakpastian global ke depan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Artha Adventy
Editor : Farid Firdaus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper