Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Siap-siap, Pemerintah Segera Luncurkan SBN Ritel ORI024 dan ST011

Pemerintah berencana untuk menerbitkan dua seri Surat Berharga Negara (SBN) yakni, obligasi negara ritel seri ORI024 dan sukuk tabungan seri ST011.
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis/Abdullah Azzam
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berencana untuk menerbitkan dua seri Surat Berharga Negara (SBN) Ritel hingga akhir 2023. Di antaranya yakni, obligasi negara ritel seri ORI024 dan sukuk tabungan seri ST011. 

Mengutip informasi dari laman resmi Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu, pemerintah akan membuka masa penawaran obligasi negara ritel seri ORI024 pada 9 Oktober hingga 2 November 2023. 

Sama seperti seri sebelumnya atau ORI023, ORI024 juga akan ditawarkan dalam dua tenor yang berbeda, yaitu tenor tiga tahun dan enam tahun. 

Selanjutnya, sehari setelah penutupan masa penawaran ORI024, Kemenkeu akan menerbitkan sukuk tabungan seri ST011 pada 3 November 2023. Adapun, masa penawaran akan berlangsung hingga 29 November mendatang. 

Sementara itu, jika mengacu pada timeline penerbitan SBN Ritel milik Kemenkeu, terdapat delapan jenis seri yang diluncurkan pemerintah sepanjang 2023. 

SBN ritel pertama yang diluncurkan oleh Kemenkeu pada 2023 adalah savings bond ritel (SBR) seri SBR012. SBR012 ditawarkan dalam dua tenor pada satu waktu, yaitu tenor dua tahun dan empat tahun. 

Masa penawaran SBR012 resmi dibuka pada 19 Januari dan berlangsung hingga 9 Februari 2023. Angka penjualan SBR012 tembus ke Rp22,18 triliun. 

Kemudian, pada Maret 2023, Kemenkeu resmi meluncurkan sukuk ritel seri SR018 yang ditawarkan dalam dua tenor yaitu tenor tiga dan lima tahun. SR019 dapat dibeli oleh para investor tanah air mulai 3 hingga 29 Maret 2023. 

Pemerintah berhasil menghimpun dana sebesar 21,49 triliun dalam 26 hari masa penawaran SR018. 

SBN Ritel lain yang diterbitkan Kemenkeu pada tahun ini adalah sukuk tabungan seri ST010 yang masa penawarannya dibuka pada 12 Mei hingga 7 Juni 2023. 

Secara rinci, total volume pemesanan ST010 tenor dua dan empat tahun yang telah ditetapkan ialah sebesar Rp15 triliun. Jumlah tersebut menjadi rekor tertinggi yang dicatatkan Kemenkeu sepanjang penerbitan sukuk tabungan. 

Setelah menorehkan angka penjualan fantastis untuk ST010, Kemenkeuan selanjutnya menerbitkan ORI023 yang dihadirkan dalam dua tenor, yaitu tenor tiga dan enam tahun. 

ORI023 ludes terjual dalam masa waktu pemesanan kurang dari sebulan, dengan total volume pemesanan nasional sebesar Rp28,9 triliun. 

SBN Ritel selanjutnya adalah sukuk wakaf ritel seri SWR004 yang laris terjual hingga Rp112,563 miliar. Adapun masa penawaran SWR004 resmi dimulai pada 7 Juli hingga 31 Agustus 2023. 

Kemudian ada sukuk ritel seri SR019 yang ditawarkan pada 1 hingga 20 September 2023. Sebagai catatan, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menggelar masa penawaran SR019 pada 1 hingga 20 September 2023. 

SR019 diterbitkan dalam dual trances, yaitu seri tenor tiga tahun dan lima tahun. Dari hasil penjualan SR019, Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu berhasil menghimpun dana sebesar Rp25,33 triliun dan menjaring sebanyak 62.083 investor. 

Jika mengulik data penjualan SR019, tenor tiga tahun terpantau lebih diminati oleh para investor tanah air. Total nilai pemesanan SR019 tenor pendek ini mencapai Rp17,54 triliun dengan rata-rata pemesanan per investor Rp375,43 juta.  

Sementara untuk SR019 tenor lima tahun atau tenor panjang laris terjual sebesar Rp7,79 triliun, dengan rata-rata pemesanan sebesar Rp393,41 juta per investor.

Prospek Obligasi di Sisa Tahun 2023

Pasar obligasi dinilai akan terpengaruh oleh keputusan Bank Sentral Amerika Serikat The Federal Reserve (The Fed), yang menahan suku bunga acuannya di level 5,25 persen—5,50 persen. The Fed kembali melanjutkan langkah hawkish dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) beberapa waktu lalu dengan menahan suku bunga acuannya. Namun, masih terdapat sinyal bahwa suku bunga akan naik satu kali lagi pada akhir tahun ini.

Keputusan ini pun akan berdampak pada pasar keuangan, termasuk di dalamnya adalah pasar obligasi Indonesia. Sebab, keputusan The Fed untuk kembali menahan suku bunganya di level yang sama akan mengakibatkan naiknya yield obligasi di Amerika Serikat (AS). 

CEO PT Pinnacle Persada Investama Guntur Putra mengatakan, naiknya yield obligasi di negeri Paman Sam cenderung akan mendorong investor global untuk memindahkan dana mereka ke AS. Hal ini, ujarnya, akan menekan pergerakan pasar obligasi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. 

"Akibatnya, yield obligasi dalam negeri akan terus mengalami koreksi naik, sebab investor bakal meminta imbal hasil yang lebih tinggi karena berinvestasi di pasar yang lebih volatil. Ini bisa mengakibatkan penurunan harga obligasi," jelasnya kepada Bisnis belum lama ini.

Meskipun demikian, Guntur menilai bahwa minat investor dalam negeri terhadap pasar obligasi akan tetap terjaga jika Bank Indonesia (BI) dapat mempertahankan stabilitas perekonomian Indonesia. Menurutnya, tak dapat dipungkiri bahwa terkendalinya tingkat inflasi dan solidnya perekonomian Indonesia memang menjadi daya tarik terbesar bagi para investor. 

"Jika BI juga mempertahankan kebijakan suku bunga yang moderat, maka pasar obligasi RI masih memiliki daya tarik, karena investor akan cenderung mencari produk obligasi yang menawarkan imbal hasil yang kompetitif," sambung Guntur. 

Di tengah sinyal kuat The Fed untuk sekali lagi menaikkan suku bunga acuannya ke level 5,75 persen, Macro Equity Strategist Samuel Sekuritas Lionel Priyadi menilai bahwa momentum tersebut akan dimanfaatkan investor asing untuk mengalihkan dana asingnya dari Surat Utang Negara (SUN) tenor panjang dan menengah ke tenor pendek 2 sampai 3 tahun, maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper