Nada Hawkish The Fed Bikin Investor Saham Lari dari Wall Street

Wall Street merosot di tengah aksi jual pada akhir perdagangan Jumat pagi WIB, karena investor khawatir bahwa kebijakan moneter ketat The Fed akan tetap berlaku
Pekerja berada di lantai Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (3/1/2021). Bloomberg/Michael Nagle
Pekerja berada di lantai Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (3/1/2021). Bloomberg/Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA - Wall Street merosot di tengah aksi jual pada akhir perdagangan Jumat pagi WIB, karena investor khawatir bahwa kebijakan moneter ketat The Fed akan tetap berlaku lebih lama dari yang diperkirakan.

Indeks Dow Jones Industrial Average terpangkas 370,46 poin atau 1,08 persen, menjadi menetap di 34.070,42 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 72,20 poin atau 1,64 persen, menjadi berakhir di 4.330,00 poin. Indeks Komposit Nasdaq anjlok 245,14 poin atau 1,82 persen, menjadi ditutup di 13.223,99 poin.

Kesebelas sektor utama S&P 500 kehilangan hampir 1,0 persen atau lebih, dengan saham real estat mengalami persentase penurunan satu hari terbesar sejak Maret.

Ketiga indeks saham utama AS anjlok lebih dari 1,0 persen dan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun mencapai puncaknya dalam 16 tahun sehari setelah Ketua Fed Jerome Powell memperingatkan bahwa jalan inflasi masih panjang sebelum mendekati target bank sentral 2,0 persen.

Saham-saham berkapitalisasi besar atau megacaps yang sensitif terhadap suku bunga, dipimpin oleh Amazon.com, Nvidia Corp, Apple Inc dan Alphabet Inc, menyeret S&P 500 dan Nasdaq ke level penutupan terendahnya sejak Juni.

Pada Rabu (20/9/2023), di akhir pertemuan kebijakan moneter dua hari, bank sentral AS mempertahankan suku bunga target dana Fed tidak berubah pada 5,25-5,50 persen, seperti yang diharapkan.

Namun proyeksi ekonomi yang direvisi, termasuk dot plot yang diawasi ketat, menunjukkan suku bunga akan tetap tinggi hingga tahun depan, sehingga mengurangi harapan pelonggaran kebijakan sebelum tahun 2025.

“Jika Anda memiliki tingkat suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama, Anda akan mempunyai lebih banyak tekanan pada sistem dan lebih banyak tekanan pada perekonomian,” kata Thomas Martin, Manajer Portofolio Senior di GLOBALT di Atlanta.

"Hal ini memberi orang kesempatan lain untuk mengatakan bahwa jeda waktu kenaikan suku bunga - yang baru mulai kita rasakan - mungkin akan sangat mengganggu."

Penurunan tak terduga sebesar 9,0 persen pada klaim awal pengangguran AS, ke tingkat terendah dalam delapan bulan, memperkuat anggapan The Fed bahwa pasar tenaga kerja masih terlalu ketat, memberikan tekanan pada upah, dan perekonomian cukup tangguh untuk menahan kenaikan suku bunga lebih lama.

“Lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama” telah menjadi kredo umum di antara bank-bank sentral negara-negara dengan perekonomian terbesar di dunia ketika pengetatan kebijakan global, untuk menjinakkan inflasi, mencapai puncaknya.

“Berita utama pagi ini cukup menarik mengenai bank sentral,” kata Martin. "Semuanya hawkish."

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 10,76 miliar lembar saham, dibandingkan dengan rata-rata 10,12 miliar saham untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Newswire
Editor : Pandu Gumilar
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper