Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Bitcoin Terus Meredup, Anjlok 11 Persen Selama 7 Hari

Bitcoin hari ini sempat diperdagangkan mendekati level terendah dua bulan setelah merosot lebih dari 10 persen dalam tujuh hari terkahir.
Ilustrasi Bitcoin. Reuters
Ilustrasi Bitcoin. Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga Bitcoin melanjutkan pelemahan setelah pekan lalu turun signifikan. Pelemahan ini dipicu oleh prospek suku bunga yang tinggi dalam waktu lebih lama sehingga melemahkan permintaan pada aset-aset berisiko.

Mengutip data coinmarketcap, Senin (21/8/2023) pada 18.00 WIB, harga kripto terbesar yakni Bitcoin turun 0,85 persen dalam 24 jam terakhir, sehingga parkir di level US$25.941,15. Bitcoin telah longsor 11,73 persen dalam 7 hari terakhir.

Sementara itu, kripto terbesar kedua Ethereum melemah 0,40 persen dalam 24 jam terakhir ke posisi US$1.666,54. Ethereum anjlok 9,79 persen dalam 7 hari terakhir.

Bitcoin hari ini sempat diperdagangkan mendekati level terendah dua bulan setelah merosot lebih dari 10 persen dalam tujuh hari hingga Minggu kemarin. Koin yang lebih kecil seperti XRP juga tergelincir.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka panjang berada di sekitar level tertinggi multi-tahun. Kondisi ini merupakan konsekuensi dari aksi jual obligasi global yang mencerminka risiko periode pengaturan moneter ketat dari Bank Sentral Federal Reserve untuk menurunkan inflasi. Latar belakang seperti itu menandakan likuiditas terbatas yang akan menimbulkan tantangan bagi aset berisiko seperti saham dan kripto.

Para bankir bank sentral The Fed akan bertemu di Jackson Hole pada pekan ini untuk simposium tahunan Federal Reserve. Komentar Ketua Fed Jerome Powell yang dijadwalkan pada Jumat (25/8/2023) akan diurai dengan cermat untuk petunjuk tentang prospek kebijakan.

"Pasar berpotensi berharap akan ada retorika dovish yang keluar dari Jackson Hole. Saya tidak berpikir mereka akan dovish,” kata Tony Sycamore, analis pasar di IG Australia Pty., mengutip Bloomberg, Senin (21/8/2023).

Sycamore memperkirakan indeks saham S&P 500 akan turun 2 persen hingga 3 persen lagi di tengah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melewati 4,33 persen, dengan Bitcoin memperpanjang penurunannya menjadi ke level US$25.000.

“Terlepas dari risiko makro, ada katalis kripto potensial yang kuat: pencatatan produk ETF [berbasis kripto],” tulis Noelle Acheson, penulis buletin Crypto Is Macro Now.

Beberapa sinyal teknis menggambarkan pola yang beragam. Ukuran momentum yang dikenal sebagai indeks kekuatan relatif 14 hari menunjukkan Bitcoin mendekati level oversold paling banyak sejak pertengahan 2022.

Sebuah studi Ichimoku Cloud, yang menggunakan rumus matematika untuk membantu menentukan area resistensi dan dukungan, menunjukkan bahwa Bitcoin mungkin berada di puncak penghematan yang lebih dalam jika tenggelam di bawah US$25.700.

Aksi penarikan aset Bitcoin oleh investor pada minggu lalu adalah yang terbesar sejak runtuhnya bursa kripto FTX pada kuartal terakhir tahun 2022. Kenaikan tahun ini mencapai 57 persen, turun dari 90 persen hingga pertengahan Juli.

Metrik pasar kripto juga menunjukkan keengganan di antara investor ritel dan institusi untuk terlibat dengan kripto setelah kekalahan tahun lalu, akibat guncangan FTX yang bangkrut dan lanskap peraturan yang selalu berubah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Farid Firdaus
Editor : Farid Firdaus
Sumber : Bloomberg
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper