Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Berkah Mulia Mandiri (BITU) Tambah Daftar Batal IPO 2023

PT Berkah Mulia Mandiri Tbk. (BITU) menyetop proses penawaran umum saham perdana atau IPO sehingga menambah daftar calon emiten batal IPO pada 2023.
PT Berkah Mulia Mandiri Tbk. (BITU) menyetop proses penawaran umum saham perdana atau IPO sehingga menambah daftar calon emiten batal IPO pada 2023. - Dok. Kementerian PUPR
PT Berkah Mulia Mandiri Tbk. (BITU) menyetop proses penawaran umum saham perdana atau IPO sehingga menambah daftar calon emiten batal IPO pada 2023. - Dok. Kementerian PUPR

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan di bidang perdagangan bitumen atau aspal, PT Berkah Mulia Mandiri Tbk. (BITU) menyetop proses penawaran umum saham perdana atau IPO.

BITU sebelumnya merencanakan penawaran awal pada 20 Juli 2023-25 Juli 2023. Harga penawaran awal saham IPO Rp131-Rp140 per saham. 

Namun, dalam laman e-IPO, status IPO BITU canceled alias batal. Penjamin emisi ialah NH Korindo Sekuritas Indonesia.

Dalam prospektusnya, BITU akan menawarkan banyak-banyaknya 550 juta saham baru dengan nilai nominal Rp50 atau sebanyak-banyaknya 31,30 persen dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh setelah penawaran umum.

Saham tersebut akan ditawarkan ke publik dengan kisaran harga Rp131 sampai Rp140 per lembarnya. Dengan demikian, total dana maksimal yang berpotensi diraup BITU dari aksi penawaran ini mencapai Rp77 miliar.

Seiring dengan penawaran umum saham tersebut, Berkah Mulia Mandiri juga akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 137,5 juta Waran Seri I atau setara 11,39 persen dari total jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh pada saat pernyataan pendaftaran dalam rangka IPO.

Waran Seri I akan diberikan secara cuma-cuma sebagai insentif bagi para pemegang saham yang ditawarkan yang tercatat dalam daftar pemegang saham pada saat penjatahan. Setiap pemegang 4 saham yang ditawarkan berhak memperoleh 1 Waran Seri I. Setiap waran memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli satu saham yang dikeluarkan dari portepel, tetapi BITU belum menetapkan harga pelaksanaan.

Waran Seri I dapat dilaksanakan menjadi saham setelah 6 bulan sejak waran diterbitkan atau lebih dan berlaku mulai 8 Februari 2024 sampai 8 Agustus 2024.

BITU berencana menggunakan Rp9,10 miliar dana hasil IPO untuk belanja modal yang tergolong capital expenditure (capex), yakni pelunasan atas sebidang tanah atas nama Lasmono Imam Rahardjo dengan total nilai jual beli atas tanah dan bangunan sebesar Rp24 miliar. BITU tercatat telah membayarkan uang muka sebesar Rp14,89 miliar.

Kemudian mayoritas dari dana IPO rencananya akan digunakan untuk keperluan moal kerja yang tergolong dalam belanja operasional atau operational expenditure (opex). Belanja ini mencakup biaya operasional, pembelian bahan baku pendukung, biaya logistik, pembayaran upah pekerja dan biaya pemasaran.

Berkah Mulia Mandiri telah berdiri sejak 1999 dan menjadi segelintir pemain dalam bidang perdagangan aspal. Mereka mengawali bisnisnya sebagai distributor pelumas industrial dan kapal.

BITU kemudian mengembangkan bisnisnya ke aktivitas distribusi drummed bitumen pada 2001 dan pada 2004 mulai fokus sebagai distributor bitumen kepada pelanggan sekaligus penyedia jasa pengelolaan terminal bitumen. Sejak 2023, BITU hanya menjalankan bidang usaha dalam Perdagangan Bitumen dan Pengelola Terminal Bitumen.

“Hingga saat ini, kami telah memiliki lebih dari 200 mitra baik korporasi swasta maupun pemerintah. Saat ini Berkah Mulia Mandiri mengoperasikan 4 terminal bitumen yang tersebar di Indonesia,” tulis manajemen dalam prospektus.

Sejumlah terminal yang dikelola BITU mencakup terminal bulk bitumen di Gresik, Makassar, Cirebon, dan Bitung yang masing-masing memiliki total kapasitas 9.000 ton, 3.800 ton, 9.800 ton dan 4.500 ton.

TUNDA IPO

Sebelum BITU, eeberapa calon emiten seperti PT Pertamina Hulu Energy, PT Akselerasi Usaha Indonesia Tbk. (AKSL) atau Akseleran, dan PT Zeus Kimiatama Indonesia Tbk. (ZEUS) memutuskan menunda rencana pencatatan perdana sahamnya di Bursa Efek Indonesia

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menyebutkan ada beberapa hal yang menjadi penyebab pembatalan IPO tersebut, salah satunya adalah adanya permintaan tambahan dokumen sehingga membutuhkan waktu.

“Pertama bisa dari sisi laporan keuangan, ada yang perlu ditambahkan, ada pula penambahan dokumen legal yang kita minta,” kata Nyoman saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia BEI, Senin (31/7/2023). 

Nyoman menjelaskan permintaan tambahan tersebut biasanya datang dari regulator atau Otoritas Jasa Keuangan. Biasanya penambahan keterangan, dokumen legal dan aspek lain di prospektus yang memang harus disiapkan calon emiten. 

Namun dalam proses pemenuhan dokumen yang diminta, tenggat waktu sudah terlampaui sehingga laporan keuangan sudah kedaluarsa. 

“Maka mereka akan meminta laporan keuangan digunakan nanti untuk periode yang berikutnya,” jelasnya. 

Sebelumnya dikabarkan beberapa calon emiten membatalkan rencana IPO-nya. 

Seperti PHE yang disebut sudah masuk pipeline Bursa, tetapi VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Fadjar Djoko Santoso, mengatakan IPO PHE tidak dilaksanakan saat ini, lantaran masih perlu mencari waktu yang tepat. Keputusan tersebut berdasarkan arahan Kementerian BUMN selaku pemegang saham.  

Kemudian ada pula AKSL. Direktur Utama Akselerasi Usaha Indonesia Ivan Nikolas Tambunan menjelaskan pihaknya membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk mendapatkan investor strategis yang tepat. 

"Butuh waktu lebih panjang bagi kami untuk secure strategic investor yang tepat. Jadi kami perlu tunda dulu," kata Ivan dikonfirmasi, Rabu (26/7/2023).

Ivan melanjutkan, Akseleran melihat waktu yang paling tepat untuk kembali melakukan IPO adalah sampai Juni 2024.

Sementara itu, Presiden Direktur sekaligus pemilik manfaat terakhir ZEUS Sumantri Ishak menyatakan bahwa perusahaan menilai dibutuhkan edukasi bagi calon investor sebelum melanjutkan tahapan pencatatan saham alias IPO di Bursa Efek Indonesia. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper