Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rugi Chandra Asri (TPIA) Milik Prajogo Pangestu Susut 99,09 Persen Tinggal Rp8,79 Miliar

Emiten milik Prajogo Pangestu, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) berhasil susutkan rugi bersih hingga 99,09 persen jadi Rp8,79 miliar semester I/2023.
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan pabrik Polyethylene (PE) baru berkapasitas 400.000 ton per tahun di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) di Cilegon, Banten, Selasa, (18/6/2019)./Bisnis-Triawanda Tirta Aditya
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan pabrik Polyethylene (PE) baru berkapasitas 400.000 ton per tahun di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) di Cilegon, Banten, Selasa, (18/6/2019)./Bisnis-Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten petrokimia milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) berhasil menyusutkan rugi bersih hingga 99,09 persen menjadi US$586.000 atau setara Rp8,79 miliar sepanjang semester I/2023. (kurs jisdor 28 Juni 2023 Rp15.000).

Berdasarkan laporan keuangan, TPIA mencatatkan rugi bersih sebesar US$586.000 atau setara dengan Rp8,79 miliar. Rugi tersebut turun 99,09 persen dibandingkan dengan semester I/2022 yang tercatat sebesar US$64,62 juta atau setara dengan Rp969,34 miliar.

Meski rugi bersih turun, pendapatan TPIA juga terpantau turun tipis sebesar 19,61 persen menjadi US$1,07 miliar atau setara Rp16,11 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar US$1,33 miliar.

Pendapatan tersebut ditopang oleh penjualan domestik sebesar US$757,83 juta sementara untuk penjualan ekspor tercatat sebesar US$311,40 juta. Keduanya termasuk penjualan polyolefin, styrene monomer, butadiene olefin serta menjualan daya listrik dan jasa kelistrikan lainnya.

Sementara jika berdasarkan jenis pelanggan maka jumlah pendapatan dari kontrak sebesar US$1,06 miliar dan pendapatan dari sewa tangki dan dermaga hanya sebesar US$5,04 juta. Kemudian 8 persen dari pendapatan dilakukan pihak berelasi.

Seiring dengan penurunan pendapatan, beban pokok TPIA juga ikut turun menjadi US$1,02 miliar atau setara dengan Rp15,40 triliun. Angka ini turun 23,10 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar US$1,33 miliar. Pos pembelian bahan baku tercatat paling besar yaitu sebesar US$835,17 juta.

Alhasil laba kotor TPIA tercatat sebesar US$47,33 juta atau setara Rp710,07 miliar naik 3.416,93 persen dibandingkan dengan periode sebelumnya yang hanya tercatat sebesar US$1,34 juta.

Sementara itu jumlah liabilitas tercatat sebesar US$2,16 miliar dengan rincian liabilitas jangka panjang sebesar US$1,82 miliar dan liabilitas jangka pendek di level US$343,06 juta. Ekuitas tercatat sebesar US$2,84 miliar dan total aset mencapai US$5,01 miliar.

Direktur Chandra Asri Suryandi mengatakan TPIA mencatatkan EBITDA positif sebesar US$95,3 juta, dibandingkan dengan EBITDA sebesar US$24,1 juta pada semester I/2022, menandakan kenaikan 295,4 persen.

“Meskipun diperkirakan akan adanya volatilitas yang berkelanjutan di masa mendatang akibat ketidakpastian geopolitik dan harga energi, Perseroan tetap percaya pada prospek jangka panjangnya dan melaksanakan rencana ekspansinya dengan disiplin dan fokus,” katanya dikutip dari keterangan resmi, Senin (31/7/2023).  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Artha Adventy
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper