Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Dibuka Menguat ke Rp15.026 Jelang Rilis Data Inflasi RI

dibuka menguat ke level Rp15.026 pada perdagangan hari ini, Senin (3/7/2023) jelang pengumuman inflasi Indonesia oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer, Jakarta, Sabtu (30/7/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha
Mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer, Jakarta, Sabtu (30/7/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka menguat ke level Rp15.026 pada perdagangan hari ini, Senin (3/7/2023). Penguatan terjadi jelang pengumuman inflasi Indonesia oleh Badan Pusat Statistik (BPS) untuk Juni 2023.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.10 WIB, rupiah dibuka menguat 0,26 persen ke level Rp15.026 terhadap dolar AS pada hari ini. Adapun indeks dolar AS terpantau menguat 0,05 persen atau 0,05 poin ke level 102,96.

Bersama dengan rupiah beberapa mata uang kawasan Asia yang dibuka menguat terhadap dolar AS adalah won Korea Selatan naik 0,39 persen, baht Thailand naik 0,32 persen, dan peso Filipina naik 0,24 persen.Selanjutnya, yuan China naik 0,17 persen, dolar Taiwan naik 0,16 persen, dolar Singapura naik 0,04 persen, dolar Hong Kong naik 0,02 persen, dan rupee India naik 0,02 persen.

Di sisi lain, mata uang Asia yang dibuka melemah di hadapan dolar AS adalah yen Jepang yang turun 0,16 persen, dan ringgit Malaysia turun 0,02 persen.Analis Sinarmas Futures Ariston Tjendra mengatakan rupiah berpeluang menguat terhadap dolar AS seiring dirilisnya data inflasi AS pada Jumat (30/6/2023) malam.

Data Core PCE Price Index, menunjukkan bahwa inflasi AS menurun dibandingkan bulan sebelumnya.

“Hal ini membuka ekspektasi bahwa Bank Sentral AS bisa melonggarkan kebijakan pengetatan moneternya ke depan sehingga bisa mendorong pelemahan dollar AS terhadap nilai tukar lainnya,” ujar Ariston dalam riset, Senin (3/7/2023).

Dari dalam negeri, dia menyebut pasar masih berekspektasi data inflasi akan kembali turun pada Juni 2023. Ekspektasi pasar akan inflasi mencapai 3,64 persen secara year-on-year (YoY) atau dibawah dari ban di angka 4 persen.Mulai meredanya dan stabil inflasi dinilai dapat mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Akan tetapi, pelaku pasar masih mewaspadai isu perlambatan perekonomian global seiring terjadinya hal tersebut di Eropa dan China.

“Data PMI manufaktur China yang akan dirilis sebentar lagi akan memberikan petunjuk ke pelaku pasar. Kekhawatiran ini bisa mendorong pelaku pasar kembali masuk ke aset aman,” tuturnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan pasar juga berekspektasi the Fed akan menaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat Juli 2023. Adapun perkembangan terbaru data AS yang positif dapat memperkuat ekspektasi tersebut dan mendorong penguatan dolar AS.

Ariston memproyeksikan rupiah berpotensi menguat ke arah Rp15.000, sedangkan resistance di kisaran Rp15.080.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper