Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wall Street Ditutup Bervariasi, Investor Tunggu Data Inflasi AS

Indeks saham utama Wall Street di tutup beragam pada akhir perdagangan Selasa (11/4/2023) karena investor menunggu data inflasi penting.
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg/Michael Nagle
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg/Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA —  Indeks saham utama Wall Street di tutup ber padavariasi akhir perdagangan Selasa (11/4/2023) waktu setempat, kehilangan tenaga di akhir sesi karena investor menunggu data inflasi penting dan dimulainya musim laporan keuangan perusahaan kuartal pertama.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 98,27 poin atau 0,29 persen ke posisi 33.684,79. Sementara Indeks S&P 500 melemah 0,17 poin dan berakhir di 4.108,94. Indeks Komposit Nasdaq turun 52,48 poin atau 0,43 persen, menjadi ditutup di 12.031,88.

Di antara 11 sektor utama S&P 500, sektor jasa-jasa komunikasi dan teknologi berakhir di zona merah, sementara sektor energi dan keuangan menikmati persentase kenaikan terbesar.

Dow ditutup di wilayah positif dengan sektor-sektor yang sensitif secara ekonomi seperti industri, material, dan transportasi memberikan dorongan, sementara saham megacap yang berkaitan dengan teknologi menarik Nasdaq ke penutupan yang lebih rendah.

"Ketika Anda melihat (perusahaan) siklis memimpin, itu berarti kekhawatiran resesi bisa agak berlebihan," kata Ryan Detrick, kepala strategi pasar di Carson Group di Omaha, sebagaimana dikutip Antara, Rabu (12/4/2023).

"Itu pertanda sehat, apa yang tidak Anda harapkan untuk dilihat jika kita langsung menuju resesi," lanjutnya.

Perdagangan saham secara singkat mendapatkan momentum pada sore hari karena Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee mendesak kehati-hatian, memperingatkan bahwa Federal Reserve perlu berhati-hati dalam menaikkan suku bunga terlalu agresif dalam upayanya menjinakkan inflasi.

Dengan kurangnya katalis penggerak pasar, investor menantikan indeks harga konsumen (IHK) pada Rabu untuk setiap bukti bahwa pendinginan inflasi berlangsung lama dan lambat.

"Ini ketenangan sebelum badai," tambah Detrick. "Dengan data inflasi yang sangat besar besok, risalah Fed segera keluar dan (laporan) laba segera tiba, pedagang menunggu dan melihat pendekatan untuk melihat bagaimana data inflasi masuk."

Pada basis bulanan, para analis memperkirakan IHK utama dan inti mendingin masing-masing menjadi 0,2 persen dan 0,4 persen. Tetapi tahun-ke-tahun, sementara perkiraan konsensus menyerukan penurunan yang signifikan dalam inflasi utama - menjadi 5,2 persen dari 6,0 persen - inflasi inti yang menghapus harga makanan dan energi yang bergejolak, diperkirakan akan meningkat, naik menjadi 5,6 persen dari 5,5 persen.

Ketika inflasi perlahan-lahan mendingin ke target rata-rata tahunan Fed sebesar 2,0 persen, pelaku pasar mengandalkan kemungkinan 67 persen untuk kenaikan suku bunga 25 basis poin pada akhir pertemuan kebijakan moneter Mei, menurut alat FedWatch CME.

"(Kenaikan) 25 basis poin mungkin akan terjadi, dan dimasukkan ke dalam harga-harga saham," kata Robert Pavlik, manajer portofolio senior di Dakota Wealth di Fairfield, Connecticut.

"Bagaimana mereka memposisikannya untuk pertemuan berikutnya adalah kuncinya, karena begitu banyak orang memperkirakan penurunan ekonomi," katanya.

Di luar IHK, investor mengincar musim laporan keuangan kuartal pertama, yang dimulai pada Jumat (14/3/2023) dengan hasil dari tiga bank besar, Citigroup Inc, JPMorgan Chase & Co dan Wells Fargo & Co.

Para analis memperkirakan laba agregat S&P 500 kuartal pertama turun 5,2 persen secara tahun-ke-tahun, pembalikan mencolok dari pertumbuhan tahunan 1,4 persen yang diperkirakan pada awal kuartal.

Saham-saham terkait uang kripto seperti Coinbase Global Inc, Riot Platforms Inc dan Marathon Digital Holdings Inc melonak antara 6,0 persen dan 17 persen karena bitcoin menembus level 30.000 dolar AS untuk pertama kalinya dalam 10 bulan.

CarMax Inc melonjak 9,6 persen, setelah pengecer mobil bekas tersebut membukukan laba kuartalan yang mengalahkan konsensus. Pembuat obat Moderna Inc tergelincir 3,1 persen setelah perusahaan mengatakan vaksin flu yang diawasi ketat gagal memenuhi kriteria untuk "sukses awal" dalam uji coba tahap akhir.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 9,84 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 11,95 miliar selama 20 hari perdagangan terakhir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper