Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IHSG Dibuka Melemah, Saham Big Caps ADRO, BBRI, hingga BYAN Ikut Turun

IHSG Dibuka Melemah 0,11 persen pada perdagangan hari ini, Kamis (05/01/2022). Pelemahan IHSG di ikuti oleh saham ADRO,BBRI, hingga BYAN.
Karyawan melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/11/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/11/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona merah pada perdagangan hari ini, Kamis (5/1/2023). Saham berkapitalisasi pasar besar seperti ADRO , BBRI, hingga BYAN ikut melemah bersamaan dengan koreksi IHSG.

Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 09.00 WIB, IHSG dibuka melemah pada posisi 6.805,82 atau turun 0,11 persen. IHSG sempat bergerak di rentang 6.801-6.813 sesaat setelah pembukaan.

Tercatat, 114 saham menguat, 86 saham melemah, dan 219 saham bergerak ditempat. Kapitalisasi pasar IHSG terpantau menjadi Rp9.442 triliun.

Beberapa saham berkapitalisasi pasar besar tercatat melemah seperti BBRI yang turun 0,63 persen, lalu BYAN turun 0,31 persen, TLKM turun 0,26 persen, hingga ADRO yang turun 1,82 persen.

Tim Riset Phintraco Sekuritas menuturkan dari dalam negeri, saham-saham yang berkaitan dengan konsumsi dan aktivitas masyarakat berada dalam tren positif menyusul keputusan penghapusan PSBB-PPKM di Indonesia. Top picks untuk Kamis (4/1/2023), meliputi ANTM, NICL, INDF, UNVR, CPIN, SRTG dan TAYS.

Sementara sentimen negatif utama masih berasal dari pelemahan harga komoditas energi. Harga brent oil turun 5,03 persen ke US$77,97/barel, sementara harga crude oil turun 4,90 persen ke US$73,16/barel di Rabu (4/1).

Pelemahan ini dipicu oleh arah kebijakan The Fed dan kondisi Covid-19 di Tiongkok, yang dikhawatirkan menekan global demand. Indikasinya mulai terlihat dari keputusan Pemerintah Tiongkok untuk menaikan kuota ekspor minyak. Selain itu produksi OPEC+ naik 120.000 bpd di Desember 2022 dari November 2022.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper