Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

China Longgarkan Lockdown, Harga Minyak Kembali Mengeliat

Harga minyak kembali menggeliat, seiring investor mencermati dampak pelonggaran kebijakan zero covid China dan pemberian sanksi terhadap minyak asal Rusia.
Tempat penyimpanan minyak di Pelabuhan Richmond in Richmond, California/ Bloomberg - David Paul Morris
Tempat penyimpanan minyak di Pelabuhan Richmond in Richmond, California/ Bloomberg - David Paul Morris

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak dunia terpantau menguat setelah terkoreksi selama 2 hari terakhir di tengah indikasi pelonggaran kebijakan zero covid dari China. Investor juga mencermati dampak dari pembatasan harga minyak Rusia terhadap pasokan global.

Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (6/12/2022), harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) pengiriman Januari tercatat naik 0,8 persen ke US$77,56 per barel. Sementara itu, harga minyak jenis Brent untuk setelmen Februari menguat 0,8 persen menjadi US$83,36 per barel/

Pergerakan harga minyak dipengaruhi oleh langkah pemerintah China yang mulai menghapus persyaratan tes Covid untuk ruang publik di Beijing. Hal ini semakin mendorong prospek pemulihan permintaan minyak setelah pemerintah China juga menghapus persyaratan serupa di beberapa wilayah lainnya.

Di sisi lain, pasar juga tengah memperhitungkan dampak jangka panjang dari sanksi yang diberikan Uni Eropa dan G7 pada Rusia. Sanksi – sanksi ini meliputi pemberlakuan batas atas harga minyak asal Rusia jenis Ural di level US$60 per barel.

Sejauh ini, gangguan pasokan yang meluas belum terlihat meski sejumlah kapal pengangkut minyak Rusia kini terjebak di wilayah Turki akibat sanksi tersebut.

Kebijakan pembatasan harga yang dimotori oleh AS ini bertujuan untuk mengurangi penerimaan Rusia dari komoditas tersebut dan mempertahankan pengiriman minyak untuk negara – negara di luar Uni Eropa dan G7. Adapun, pemerintah Rusia telah menolak pemberlakuan batas harga tersebut.

Harga minyak dunia tercatat telah rebound dari level terendahnya sejak akhir 2021 pekan lalu seiring dengan prospek permintaan yang membaik, terutama di China. Aksi protes yang terjadi di China mendorong OPEC+ untuk tidak mengubah pemangkasan produksi hariannya.

Warren Patterson, Head of Commodities Strategy di ING Groep NV mengatakan masih ada ketidakpastian di pasar terkait kecepatan pemerintah China dalam melonggarkan kebijakan zero covid serta dampak menyeluruh dari sanksi G7 dan Uni Eropa.

“Untuk saat ini kami memprediksi sanksi tersebut belum berdampak signifikan terhadap pasokan dari Rusia mengingat batas atas harga yang ditetapkan G7 berada di atas level minyak Ural,” jelasnya.

Sementara itu, Arab Saudi menurunkan harga minyak untuk konsumennya di wilayah Asia, termasuk untuk jenis Arab Light. Langkah Arab Saudi mengindikasikan outlook permintaan yang tetap rapuh dalam beberapa waktu ke depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper