Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Bitcoin Cs Mantul Sekalipun 3 Bandar Kripto Mendadak Bangkrut

Harga Bitcoin (BTC) sudah kembali memantul 3,22 persen sepanjang 7 hari terakhir dan naik 4,48 persen dalam 24 jam terakhir.
Ilustrasi Bitcoin. Reuters
Ilustrasi Bitcoin. Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Pasar kripto mulai kondusif setelah sejumlah sentimen negatif yang melanda termasuk kemungkinan resesi global pada 2023 serta bangkrutnya Celcius Network, BlockFi,dan Bursa Kripto FTX

Mengutip coinmarketcap.com, Rabu (30/11/2022), pukul 09.40 WIB, harga Bitcoin (BTC) sudah kembali memantul 3,22 persen sepanjang 7 hari terakhir dan naik 4,48 persen dalam 24 jam terakhir ke level US$17.007. Selanjutnya, Ethereum (ETH) juga memantul 9,95 persen dalam sepekan terakhir dan naik 7,8 persen dalam 24 jam terakhir.

Altcoin lain yang menguat cukup signifikan di antaranya Houbi Token (HT), ApeCoin (APE), DOgecoin (DOGE), Fantom (FTM), dan Celo (CELO) yang masing-masing memantul 43,96 persen, 31,8 persen, 34,95 persen, 25,08 persen, dan 22,66 persen selama sepekan terakhir.

Chief Marketing Officer Pintu menerangkan pasar kripto relatif kondusif dibandingkan dua minggu terakhir, meskipun begitu investor masih harus tetap waspada terhadap pergerakan pasar ke depannya.

"Kami menyarankan untuk memantau kondisi secara intensif dan jangan terburu-buru dalam menentukan investasi. Momentum seperti ini baik bagi investor untuk menambah pengetahuan dan menentukan aset-aset kripto yang memiliki fundamental baik dan potensial ke depannya,” terangnya, Rabu (30/11/2022).

Dikutip dari Pintu Academy, Leading Economic Indicator, secara historis memiliki rekam jejak yang cukup baik dalam memprediksi resesi di masa lalu yang bertepatan dengan puncak Coincident Economic Indicator (CEI).

Secara rata-rata indikator ini menunjukkan telah mencapai puncaknya sekitar 14 bulan lalu. Dari data tersebut diperkirakan awal resesi dapat terjadi sekitar pada Maret 2023.

Selain itu, secara historis dari pasar modal menunjukkan sejak tahun 1950, pada tahun ketiga periode kepresidenan AS mencatat pengembalian keuangan tahunan sebesar hampir 17 persen dengan peningkatan hingga 89 persen.

Indikator ekonomi dan dari sisi politik dapat mempengaruhi pergerakan harga Bitcoin dan aset kripto ke depannya. Secara spesifik, harga Bitcoin pada pekan lalu berhasil naik dari posisi terendah US$15.800 ke harga US$16.500.

Jika diamati, Bitcoin mencoba melintasi titik harga US$17.000 akan tetapi gagal dan kembali menemui titik resistance-nya. Secara umum, Bitcoin masih berada di bottom pada pola bearish falling wedge dan diperkirakan akan mengalami kenaikan jangka pendek. Harga Bitcoin juga diperkirakan berada dalam alur bergerak menyamping.

Pada grafik bulanan, Bitcoin berada di bawah EMA 100 bulan. Secara historis, Bitcoin tidak pernah berada di bawah EMA 50 bulan, tetapi tampaknya Bitcoin menembus ke bawah garis support EMA 100 bulan.

"Kita harus melihat hingga akhir bulan apakah BTC dapat mempertahankan garis tersebut sebagai support. Selain itu, dapat diperhatikan juga garis support RSI di 41, Bitcoin tidak pernah turun di bawah garis support RSI. BTC sedang menginjak tepi garis support ini," jelasnya.

Harga Bitcoin serta keseluruhan pasar kripto masih dalam ketidakpastian di tengah kasus-kasus yang terjadi beberapa minggu lalu salah satunya kejatuhan FTX dan dampaknya kepada Genesis. Genesis adalah bagian dari grup Digital Currency Group (DCG), yang memiliki perusahaan investasi Grayscale dan mengelola dana GBTC.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper