Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Pelemahan Rupiah Buat Kinerja Avian (AVIA) Milik Crazy Rich Surabaya Hermanto Tanoko Tertekan

Kinerja PT Avia Avian (AVIA) tertekan terimbas pelemahan rupiah terhadap dollar AS. hal itu terjadi karena 30—35 persen bahan baku yang dipakai adalah impor.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 14 November 2022  |  15:10 WIB
Pelemahan Rupiah Buat Kinerja Avian (AVIA) Milik Crazy Rich Surabaya Hermanto Tanoko Tertekan
Produsen cat Avian, PT Avia Avian Tbk. - Istimewa.
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat beberapa bulan terakhir telah berimbas pada performa emiten cat milik keluarga Crazy Rich Surabaya Winojo dan Hermanto Tanoko, PT Avia Avian Tbk. (AVIA). Margin kotor (gross margin) dan pendapatan AVIA kompak tertekan pada Kuartal III/2022.

Head of Investor Relation Avia Avian Andreas Timothy Hadikrisno menjelaskan 30—35 persen bahan baku yang dipakai AVIA terimbas oleh pelemahan rupiah karena masih diimpor. Sepanjang Januari—September 2022, beban pemakaian bahan baku AVIA mencapai Rp1,68 triliun, meningkat dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,62 triliun.

“Kalau dikaitkan dengan gross margin, setiap pelemahan rupiah 10 persen berdampak sekitar 1,2 persen ke margin kotor,” kata Andreas dalam diskusi daring NH Korindo Sekuritas Indonesia, Senin (14/11/2022).

Margin kotor Avia Avian tercatat berada di posisi 37,6 persen pada kuartal III/2022, turun dibandingkan dengan kuartal II/2022 yang mencapai 41,3 persen dan kuartal I/2022 sebesar 40,8 persen. Margin tersebut juga lebih rendah dari kuartal III/2021 sebesar 40,3 persen. 

“Pelemahan gross margin kami di kuartal III/2022 salah satunya karena adanya pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat walaupun harga bahan baku mulai membaik. Awalnya kenaikan harga bahan baku bisa sampai 40 persen. Jika ditambah inflasi dan hal-hal lainnya, gross margin tetap terimbas,” lanjutnya.

Andreas mengatakan salah satu langkah yang diambil AVIA untuk mengantisipasi kenaikan harga bahan baku akibat pelemahan rupiah adalah dengan efisiensi. Model bisnis vertikal AVIA juga membantu proses efisiensi karena beberapa lini bisnis diproduksi di pabrik milik sendiri.

Sampai September 2022, akumulasi penjualan AVIA mencapai Rp4,95 triliun. Nilai tersebut turun 0,38 persen dibandingkan dengan Januari—September 2021 sebesar Rp4,97 triliun. Penjualan di kuartal III/2022 sebesar Rp1,57 triliun juga lebih rendah dari kuartal III/2021 sebesar Rp1,74 triliun.

Terlepas dari penurunan penjualan, laba bersih AVIA tercatat masih tumbuh 2,02 persen secara tahunan, dari Rp1,05 triliun menjadi Rp1,08 triliun per September 2022. Laba bersih di kuartal III/2022 mencapai Rp303,18 miliar, turun dari kuartal II/2022 sebesar Rp391,97 miliar. 

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Avian Hermanto Tanoko
Editor : Ibad Durrohman
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top