Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

BEI Buka Suara Soal 6 Emiten Pailit dan Berpotensi Terdepak dari Bursa

BEI menghapus pencatatan saham Perusahaan Tercatat apabila mengalami sekurang-kurangnya satu dari dua kondisi yang ada.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 14 Oktober 2022  |  15:45 WIB
BEI Buka Suara Soal 6 Emiten Pailit dan Berpotensi Terdepak dari Bursa
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHS) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (11/10/2022). Bisnis - Fanny Kusumawardhani
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Sebanyak enam emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menyandang status pailit dan terancam dihapuskan pencatatan sahamnya atau delisting setelah melewati masa suspensi 24 bulan.

Berdasarkan catatan Bisnis.com, keenam emiten tersebut adalah PT Forza Land Indonesia Tbk (FORZ), PT Cowell Development Tbk (COWL), PT Golden Platinum Tbk (GOLL), PT Grand Kartech Tbk (KRAH), PT Nipress Tbk (NIPS), dan PT Hanson International Tbk (MYRX). 

Dari 6 emiten tersebut, hanya FORZ yang belum melewati masa suspensi 24 bulan yang merupakan batas waktu untuk delisting.

Terkait hal tersebut, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menjelaskan, Peraturan I-I tentang Penghapusan Pencatatan (Delisting) Dan Pencatatan Kembali (Relisting) Saham Di Bursa telah mengatur perihal Delisting Perusahaan Tercatat

Ia menuturkan, bursa menghapus pencatatan saham Perusahaan Tercatat apabila mengalami sekurang-kurangnya satu dari dua kondisi yang ada.

Pertama, mengalami kondisi, atau peristiwa, yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha perusahaan tercatat, baik secara finansial atau secara hukum, atau terhadap kelangsungan status perusahaan tercatat sebagai perusahaan terbuka, dan perusahaan tercatat tidak dapat menunjukkan indikasi pemulihan yang memadai.

Sementara, kondisi kedua adalah saham perusahaan tercatat yang akibat suspensi di pasar reguler dan pasar tunai, hanya diperdagangkan di pasar negosiasi sekurang-kurangnya selama 24 (dua puluh empat) bulan terakhir.

Dalam pelaksanaan Peraturan Tersebut, Nyoman mengatakan bursa tidak serta merta menghapus Perusahaan Tercatat dari daftar efek yang dicatatkan.

“Kami senantiasa melakukan upaya agar Perusahaan Tercatat tetap tercatat di Bursa. Hal tersebut misalnya dengan melakukan permintaan penjelasan dan/atau dengar pendapat dengan Perusahaan Tercatat tersebut,” jelasnya saat dihubungi, Jumat (14/10/2022).

Ia menjelaskan, langkah – langkah BEI dilakukan untuk mengetahui perihal kendala yang dihadapi, upaya yang dijalankan dalam mengatasi masalah yang dihadapi. Hal tersebut merupakan bentuk pembinaan yang dilakukan oleh Bursa.

Selain itu, dalam kondisi tertentu Bursa juga perlu mempertimbangkan beberapa hal, misalnya apakah Perusahaan Tercatat yang telah dinyatakan pailit telah memperoleh kekuatan hukum tetap/tidak atau apakah ada upaya hukum lain yang sedang dijalankan oleh Perusahaan.

Hal lain yang menjadi perhatian adalah koordinasi dengan otoritas dan aparat penegak hukum apabila dibutuhkan.

“Hal ini penting dilakukan agar ketika dilakukan proses delisting, hal tersebut sudah merupakan upaya terakhir dan memang Perusahaan Tercatat tersebut layak untuk dilakukan delisting,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa efek indonesia bei delisting pailit
Editor : Hafiyyan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top