Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Menakar Dampak Suku Bunga BI dan The Fed Bagi Astra (ASII), Seberapa Besar?

PT Astra International Tbk. (ASII) mengakui kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan Bank Indonesia berdampak bagi perseroan.
Presiden Direktur PT Astra International Tbk. (ASII) Djony Bunarto Tjondro saat konferensi pers pemaparan publik, Kamis (22/9/2022)/Bisnis-Rinaldi Mohammad Azka.rnrn
Presiden Direktur PT Astra International Tbk. (ASII) Djony Bunarto Tjondro saat konferensi pers pemaparan publik, Kamis (22/9/2022)/Bisnis-Rinaldi Mohammad Azka.rnrn

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten konglomerasi, PT Astra International Tbk. (ASII) mengakui adanya kenaikan suku bunga baik dari bank sentral Amerika Serikat alias Federal Reserve (The Fed) dan Bank Indonesia (BI) berdampak pada bisnis jasa keuangan perseroan.

Head of Investor Relation Astra International Tira Ardianti mengatakan secara umum kenaikan suku bunga BI lebih lanjut akan mengakibatkan peningkatan beban bunga dari pinjaman suku bunga floating dan pendapatan bunga dari kas di Bank.

Bagi ASII kenaikan suku bunga ini berdampak pada sumber pendanaan yang berasal dari pinjaman bank dan juga kenaikan tarif bunga bagi nasabah baru perusahaan pembiayaan Grup Astra. Adapun ASII menyikapi kenaikan suku bunga ini dengan tidak memberikan proyeksi kinerja keuangan untuk kedepannya.

"Kebijakan kami adalah tidak memberikan proyeksi kinerja keuangan kedepan. Kami berharap situasi ekonomi Indonesia tetap baik, sehingga dapat menjadi katalis untuk pertumbuhan bisnis Grup Astra," ujar Tira kepada Bisnis dikutip pada Minggu (25/9/2022).

Sebelumnya diberitakan, ASII melirik sektor baru untuk dirambah dengan adanya belanja modal sebesar Rp26 triliun hingga akhir tahun.

Presiden Direktur Astra International Djony Bunarto Tjondro menjelaskan Astra memang tidak pernah berhenti mencari peluang investasi baru di berbagai lini. Dengan begitu, potensi pertumbuhan perseroan dapat terus meningkat.

"Di pipeline cukup banyak yang kami kaji, dan akan konsisten mencari investasi yang menawarkan satu prospek pertumbuhan baik, satu return yang baik bagi stakeholders kami," terangnya dalam konpers virtual, Kamis (22/9/2022).

Djony menjelaskan hingga semester I/2022 realisasi belanja modal ASII baru mencapai Rp7,6 triliun dari target fantastis Rp25-Rp26 triliun tahun ini. Artinya, ASII masih memiliki kas tebal untuk investasi rutinnya sekaligus investasi tambahan seperti merger, akuisisi, dan pembentukan lini bisnis baru.

Dia menjelaskan strategi, prioritas, dan fokus Astra mengembangkan dan memaksimalkan 7 portofolio bisnis yang sangat penting memperkuat ekosistem lini bisnis Astra.

Kemudian, didukung dengan momentum yang baik dan kas yang kuat, ASII terus mencari portofolio baru menjadi fokus perseroan.

"Kami terus mencari portofolio baru di sektor dan sub sektor yang menjadi fokus kami, misalnya di healthcare yang menawarkan prospek jangka panjang yang baik, mobility and logistic, financial service mengingat populasi unbanked masih tinggi, dan membangun kapabilitas digital Astra," terangnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper