Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Emiten Lo Kheng Hong (DILD) Kejar Target Rp1,1 Triliun, Akhir Tahun Cuan?

Emiten andalan Lo Kheng Hong (DILD) berpotensi meraup cuan, berasal dari serah terima proyek Promenade yang ditargetkan meraup pendapatan Rp1,1 triliun.
Masterpland Batang Industrial Park (BIP), salah satu proyek kawasan industri di Batang, Jawa Tengah, besutan emiten properti  PT Intiland Development Tbk (DILD). /Intiland.
Masterpland Batang Industrial Park (BIP), salah satu proyek kawasan industri di Batang, Jawa Tengah, besutan emiten properti PT Intiland Development Tbk (DILD). /Intiland.

Bisnis.com, JAKARTA –  Emiten pegangan Lo Kheng Hong PT Intiland Development Tbk. (DILD) optimistis bisa meraup cuan pada semester II/2022, mengandalkan serah terima pada proyek apartemen kelas atas, 57 Promenade.

Direktur Keuangan Intiland Development Archied Noto Pradono mengatakan, sejak diluncurkan pada 2018 lalu, proyek tersebut sudah terjual sekitar 90 persen atau sekitar Rp2,2 triliun.

“Kita sudah jual sekitar Rp2,2 triliun, semoga serah terima bisa mulus, target saya bisa separuh bisa diserah terima. Karena ini apartemen agak high end, takutnya pembelinya butuh banyak hal, tapi harusnya dengan kualitas kita sebelumnya, target kita bisa serah terima 50 persen,” kata Archied saat siaran langsung Instagram, Senin (19/9/2022).

Archied mengatakan, proyek tersebut sudah jadi secara fisik, tapi perlu waktu memanggil seluruh pembeli untuk serah terima dan memastikan tidak banyak komplain dan sesuai dengan selera pembeli.

“Proyek ini [57 Promenade] tinggal legalitasnya aja, secara pengerjaan fisik sudah selesai. Jadi kalau kami target 50 persen, mungkin bisa kita serah terima atau sekitar Rp1,1 triliun. Jadi seharusnya akhir tahun ini bisa berbalik laba,” ungkapnya.

Dengan adanya serah terima apartemen ini, DILD berharap kinerjanya sampai akhir tahun bisa berbalik menjadi positif. Kendalanya, lantaran untuk penjualan apartemen saat ini tidak ada pengakuan pendapatan secara bertahap di laporan keuangan dan harus dari serah terima terlebih dahulu.

“Jadi kalau prosesnya 4 tahun, kita harus puasa pendapatan 4 tahun. Ini keadaannya begitu PSAKnya,” ujarnya.

Adapun, DILD akan fokus pada pengerjaan proyek-proyek rumah tapak ke depannya. Pasalnya, pasar apartemen masih belum bisa pulih setelah Covid-19.

“Setelah pandemi kita lihat tren high rise masih soft sekali, boleh dikata turun cukup signifikan. Jadi di proyek yang baru kita nggak kejar high rise lagi sementara. Jadi mengapa performance kita kurang bagus karena yang lagi ada stoknya nggak favorable. Tapi dari sudut capex kita nggak ada masalah dalam eksekusi,” paparnya.

Pada semester I/2022 sendiri, DILD baru mencatatkan marketing sales senilai Rp803 miliar, atau baru 33,45 persen dari target setahun Rp2,4 miliar.

Adapun, semester I/2022, DILD masih mencatatkan rugi hingga Rp162,92 miliar, naik dari periode yang sama tahun sebelumnya yang rugi Rp23,14 miliar.

Dari sisi harga saham, saham DILD pada perdagangan Senin (19/9/2022) juga mengalami penurunan 4,12 persen ke Rp186. Secara tahun berjalan (ytd) harganya masih tumbuh 19,23 persen, dan dalam setahun tumbuh 23,18 persen. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Mutiara Nabila
Editor : Pandu Gumilar
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper