Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Berburu Saham Blue Chip yang Lagi Diskon, Mana yang Paling Oke?

Tekanan di pasar saham membuat saham-saham blue chip ikut mengalami penurunan. Analis melihat terdapat beberapa saham yang menarik untuk dikoleksi investor di tengah momentum ini.
Annisa Kurniasari Saumi
Annisa Kurniasari Saumi - Bisnis.com 19 Juli 2022  |  16:02 WIB
Berburu Saham Blue Chip yang Lagi Diskon, Mana yang Paling Oke?
Tekanan di pasar saham membuat saham-saham blue chip ikut mengalami penurunan alias terdiskon. Analis melihat terdapat beberapa saham yang menarik untuk dikoleksi investor di tengah momentum ini. Bisnis - Himawan L Nugraha
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Tekanan di pasar saham membuat saham-saham blue chip ikut mengalami penurunan alias terdiskon. Analis melihat terdapat beberapa saham yang menarik untuk dikoleksi investor di tengah momentum ini.

Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto mengatakan, di tengah tekanan ini, sektor perbankan cukup atraktif. Menurutnya, dengan kinerja yang cukup kuat dibanding tahun lalu, koreksi yang terjadi saat ini dapat menjadi peluang untuk memperoleh level entry yang lebih murah.

"Misalnya PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) sudah terkoreksi sekitar 26 persen dari level tertinggi tahun ini. Padahal, jika dilihat dari laporan bulanan hingga Mei lalu mencatatkan kenaikan laba mencapai 65 persen YoY dan jika pencapaian tersebut bisa dipertahankan maka berpotensi mencetak rekor laba tertinggi pada tahun 2022 ini," kata Pandhu, Selasa (19/7/2022).

Selain BBNI, Pandhu juga mencermati saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) juga telah terkoreksi sekitar 19 persen dari level tertinggi tahun ini, meskipun bukukan peningkatan laba 65 persen yoy berdasarkan laporan bulanan Mei lalu.

Selain perbankan, Investindo Nusantara Sekuritas juga melihat beberapa emiten yang secara valuasi cukup menarik, karena saat ini diperdagangkan pada rasio PE yang cukup rendah yaitu di bawah 7 kali.

Saham-saham tersebut di antaranya PT Medco Energi International Tbk. (MEDC), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO), PT Timah Tbk. (TINS), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP), PT Media Nusantara CItra Tbk. (MNCN), PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS), dan PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA).

"Catatan kinerja yang solid pada kuartal pertama ini menjadi bekal positif bagi para emiten di atas menghadapi sisa tahun 2022 ini," tutur dia.

Menurutnya, katalis positif terhadap saham-saham blue chip datang dari kuatnya kinerja kuartal pertama lalu, seiring dengan semakin pulihnya ekonomi Indonesia yang tercermin dari data pertumbuhan GDP yang meningkat.

Namun, lanjutnya, di sisi lain kinerja emiten-emiten blue chip juga masih dibayangi sentimen negatif.

Sentimen negatif muncul dari ancaman kenaikan tingkat inflasi yang berpotensi menekan daya beli masyarakat. Selain itu, harga komoditas yang berangsur turun, terutama 2 bulan terakhir akan menekan pergerakan saham sektor komoditas karena ruang untuk penurunan lebih lanjut masih cukup lebar ,terutama batu bara.

Sedangkan komoditas lain seperti CPO dan nikel sudah terkoreksi lebih dari 50 persen dari level tertinggi. Harga komoditas ekspor andalan Indonesia tersebut selama ini menjadi penopang kurs rupiah, karena penjualan ekspor Indonesia melonjak drastis sehingga neraca perdagangan mampu catatkan surplus selama lebih dari 2 tahun beruntun. Hal tersebut menurut Pandhu membuat kurs rupiah sejauh ini relatif lebih kuat dibanding mata uang negara lain.

"Sentimen negatif lain adalah potensi perlambatan ekonomi terkait potensi kenaikan suku bunga yang diperkirakan akan segera dimulai tahun ini untuk mengendalikan tingkat inflasi," ujar dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

blue chip saham bni bank mandiri pt timah tbk
Editor : Pandu Gumilar
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top