Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kecil Potensi Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga, Investor Cermati Saham Ini

Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menahan suku bunga acuan BI 7 days reverse repo rate (BI7DRRR) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) tengah pekan ini. Analis memperkirakan pelaku pasar telah mengantisipasi hasil keputusan RDG BI.
Karyawan melintas di depan layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (5/7/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Karyawan melintas di depan layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (5/7/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menahan suku bunga acuan BI 7 days reverse repo rate (BI7DRRR) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) tengah pekan ini. Analis memperkirakan pelaku pasar telah mengantisipasi hasil keputusan RDG BI.

Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan memprediksi, BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level saat ini, yakni di 3,5 persen. Dia mencermati, pelaku pasar telah mengantisipasi hal ini dalam beberapa waktu terakhir.

Selain itu, menurutnya BI juga telah cukup intens dalam mengkomunikasikan arah kebijakannya.

"Sehingga setelah pengumuman RDG BI, tidak terlihat ada respon berlebihan dari pasar," ujar Valdy, dihubungi Selasa (19/7/2022).

Untuk kondisi seperti ini, lanjutnya, saham-saham defensif dapat menjadi alternatif pilihan bagi investor. Valdy merekomendasikan saham-saham defensif dalam sektor consumer goods, seperti PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dan PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR).

Lebih lanjut, menurut Valdy BI memiliki beberapa pertimbangan untuk menahan suku bunga acuan.

Pertimbangan pertama, meskipun tingkat inflasi mencapai 4,35 persen yoy di Juni 2022, namun inflasi inti relatif rendah, sebesar 2,63 persen yoy di Juni 2022, naik tipis dari 2,58 persen yoy di Mei 2022. Hal ini mengindikasikan kebijakan akomodatif masih diperlukan untuk menopang laju pertumbuhan, terutama di sisi konsumsi.

Pertimbangan kedua, menurutnya adalah nilai tukar rupiah yang cenderung bertahan di kisaran Rp15.000 per dolar AS. Level ini memang lebih tinggi dari asumsi batas atas sebesar Rp14.7000 per dolar AS.

Akan tetapi, Valdy menilai pelemahan ini masih masuk dalam batas toleransi pemerintah. Terlebih, nilai ekspor di Juni 2022 naik signifikan, jauh melampaui kenaikan nilai impor. Dengan demikian, kondisi ini masih cenderung menguntungkan bagi ekonomi Indonesia.

"BI nampaknya akan tetap memantau ketat sejumlah indikator-indikator tadi sebelum memutuskan kenaikan suku bunga acuan," ucapnya.

Selain itu, Vlady menilai BI juga memiliki instrumen lain, salah satunya adalah GWM yang rencananya akan kembali dinaikkan pada 1 September 2022.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper