Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IEA Peringatkan Krisis Energi Global Bisa Lebih Buruk Lagi

Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan musim dingin di Eropa tahun ini akan sangat sulit mengingat lonjakan harga gas dan bensin.
Matahari terbenam di balik sistem derek pelabuhan dan turbin angin di Hamburg, Jerman. Eropa kini menghadapi krisis energi yang membuat harga gas meroket/neweurope.eu
Matahari terbenam di balik sistem derek pelabuhan dan turbin angin di Hamburg, Jerman. Eropa kini menghadapi krisis energi yang membuat harga gas meroket/neweurope.eu

Bisnis.com, JAKARTA – Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan tekanan global pada pasokan energi yang memicu kekurangan dan membuat harga listrik serta bahan bakar melambung mungkin akan menjadi lebih buruk.

“Dunia belum pernah menyaksikan krisis energi besar seperti itu dalam hal kedalaman dan kompleksitasnya. Kita mungkin belum melihat yang terburuk, ini memengaruhi seluruh dunia,” kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol di forum energi global di Sydney, mengutip Bloomberg, Selasa (12/7/2022).

Birol mengatakan, seluruh sistem energi berada dalam kekacauan setelah invasi Ukraina pada Februari 2022 oleh Rusia, yang saat itu pengekspor minyak dan gas alam terbesar dan pemain utama dalam komoditas.

Harga yang melonjak mengangkat biaya pengisian tangki bensin, pemanas rumah dan industri pembangkit tenaga listrik di seluruh dunia, menambah tekanan inflasi dan menyebabkan protes mematikan dari Afrika hingga Sri Lanka.

Birol menambahkan, seperti krisis minyak tahun 1970-an, yang melihat keuntungan besar dalam efisiensi bahan bakar dan ledakan tenaga nuklir, dunia mungkin melihat lompatan dalam kebijakan energi yang mempercepat transisi ke energi yang lebih bersih. Sementara itu, keamanan pasokan migas akan terus menjadi tantangan bagi Eropa, dan juga kawasan lain.

“Musim dingin di Eropa ini akan sangat, sangat sulit. Ini adalah perhatian utama, dan ini mungkin memiliki implikasi serius bagi ekonomi global,” kata Birol.

Pada forum yang sama Menteri Energi AS Jennifer Granholm mengatakan, dampak bagi sektor energi global ketika AS dan sekutunya menantang Presiden Vladimir Putin atas perang di Ukraina dan mencari alternatif untuk ekspor Rusia telah menyoroti kebutuhan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

“Langkah kami untuk membersihkan energi secara global bisa menjadi rencana perdamaian terbesar. Kami ingin dan perlu bergerak untuk membersihkan,” katanya.

Birol menambahkan, dalam transisi menuju energi yang lebih bersih, ketergantungan pada China telah menjadi sesuatu yang kita semua perlu pikirkan dari perspektif keamanan energi.

“China mengendalikan sekitar 80 persen dari rantai pasokan global untuk solar, yang akan meningkat menjadi 95 persen pada tahun 2025,” katanya.

Pada bagian lain, Granholm berpendapat China memiliki banyak teknologi dan rantai pasokan, dan itu bisa membuat dunia rentan jika tidak mengembangkan rantai pasokan sendiri.

Adapun pada forum di Sydney, Amerika menandatangani kesepakatan untuk bekerja sama dengan Australia dalam teknologi energi  terbarukan

“Sangat penting bahwa negara-negara yang memiliki nilai yang sama mengembangkan rantai pasokan kita sendiri,” jelas Granholm.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Farid Firdaus
Editor : Farid Firdaus
Sumber : Bloomberg
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper