Dolar AS dan Euro Bertekuk Lutut Terhadap Rubel Rusia, Efek 'Perang Energi' Putin?

Rubel menguat 2,4 persen terhadap dolar AS di 59,47, sebelumnya mata uang Kremlin ini menyentuh 58,80 atau level terkuatnya sejak 5 Juli.
Sebuah papan reklame digital menampilkan nilai tukar sejumlah mata uang di pintu sebuah gerai penukaran mata uang di Moskwa, Rusia, Kamis (24/2/2022)./Bloomberg-Andrey Rudakov
Sebuah papan reklame digital menampilkan nilai tukar sejumlah mata uang di pintu sebuah gerai penukaran mata uang di Moskwa, Rusia, Kamis (24/2/2022)./Bloomberg-Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA - Rubel Rusia menguat menembus angka 59 terhadap dolar AS pada akhir perdagangan Senin (11/7/2022) dan menguat terhadap euro, membalikkan kerugian awal setelah fluktuasi yang bergejolak di sesi terakhir.

Hal ini dipicu karena pasar terus menunggu pembaruan pada intervensi mata uang. Rubel turun sekitar 16 persen dari level tertinggi lebih dari tujuh tahun yang dicapai pada akhir Juni, setelah turun tajam karena beberapa pejabat menyuarakan kekhawatiran tentang kekuatannya, yang mengurangi pendapatan Rusia dari ekspor komoditas dan barang-barang lain yang dihargai dalam dolar dan euro.

Rubel menguat 2,4 persen terhadap dolar AS di 59,47, sebelumnya mata uang Kremlin ini menyentuh 58,80 atau level terkuatnya sejak 5 Juli. Rubel kemudian naik 3,8 persen diperdagangkan pada 59,98 versus euro, sebelumnya menguat ke 59,40.

Rubel adalah mata uang dengan kinerja terbaik di dunia sepanjang tahun ini, didorong oleh langkah-langkah - termasuk pembatasan rumah tangga Rusia yang menarik tabungan mata uang asing - diambil untuk melindungi sistem keuangan Rusia dari sanksi Barat yang dikenakan setelah Moskow mengirim pasukan ke Ukraina pada 24 Februari 2022.

Mata uang juga diuntungkan dari melonjaknya pendapatan dari ekspor komoditas dan penurunan tajam dalam impor. Para analis mengatakan ada sedikit perbedaan antara 50 dan 60 rubel terhadap dolar dalam hal seberapa penting anggaran itu. Pejabat lebih memilih tingkat 70-80, menurut analis.

"[Rubel] dapat kembali ke 55 terhadap dolar menjelang pajak triwulanan dan pembayaran dividen," kata Kepala Investasi Locko-Invest Dmitry Polevoy.

"Kami juga ragu bahwa pemulihan impor dan penurunan ekspor akan cukup signifikan pada Juli untuk sangat mempengaruhi rubel."

Rubel mungkin melihat tekanan sisi atas yang lebih lemah dari suku bunga di dalam negeri karena bank sentral secara luas diperkirakan akan memangkas suku bunga utamanya dari 9,5 persen pada pertemuan dewan 22 Juli setelah Rusia mencatat penurunan harga konsumen pada Juni.

"Bank sentral dapat memangkas suku bunga utama sebesar 50-100 basis poin minggu depan," kata analis Promsvyazbank.

Indeks saham Rusia bervariasi pada Senin (11/7/2022). Indeks RTS berdenominasi dolar naik 0,5 persen pada 1.150,2 poin. Indeks MOEX Rusia berbasis rubel turun 2,4 persen menjadi 2.169,8 poin.

Finam, pialang saham, dalam sebuah catatan mengungkapkan saham Rusia tetap menarik dalam jangka panjang karena murah dan karena ekspektasi bahwa suku bunga bank sentral akan turun.

Presiden Vladimir Putin pada Jumat (8/7/2022) mengatakan sanksi lanjutan terhadap Rusia atas perang di Ukraina berisiko memicu bencana kenaikan harga energi bagi konsumen di seluruh dunia.

Lebih lanjut, Putin mengatakan bahwa seruan Barat untuk mengurangi ketergantungan pada energi Rusia telah membuat pasar global bergejolak dengan lonjakan minyak dan gas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Newswire
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper