Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Analis Perkirakan Obligasi Korporasi Tumbuh 20 Persen pada 2022

Kebutuhan korporasi terhadap pembiayaan, seperti obligasi, untuk melakukan ekspansi usahanya dinilai cukup baik karena ekonomi Indonesia yang sedang bertumbuh.
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 21 Juni 2022  |  01:47 WIB
Analis Perkirakan Obligasi Korporasi Tumbuh 20 Persen pada 2022
ilustrasi obligasi. Kebutuhan korporasi terhadap pembiayaan, seperti obligasi, untuk melakukan ekspansi usahanya dinilai cukup baik karena ekonomi Indonesia yang sedang bertumbuh.
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Analis memperkirakan penerbitan obligasi korporasi akan tumbuh dalam rentang 10 persen-20 persen pada tahun ini 2022, dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Perkiraan tersebut setelah mempertimbangkan risiko kenaikan suku bunga dan juga pertumbuhan ekonomi di Tanah Air.

Head of Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengatakan kenaikan suku bunga The Fed yang cukup besar yaitu sebesar 75 basis poin turut menekan pasar obligasi di Indonesia.

Ramdhan melihat di tengah kenaikan suku bunga tersebut, kebutuhan korporasi terhadap pembiayaan untuk melakukan ekspansi usahanya yang dinilai cukup baik karena ekonomi Indonesia yang sedang tumbuh dibandingkan dengan pandemi tahun lalu.

“Oleh karena kebutuhan itu, walaupun suku bunga naik, dan likuiditas masih cukup baik. Penerbitan obligasi korporasi akan tumbuh. Walaupun pertumbuhan itu saya perkirakan 10-20 persen year on year,” kata Ramdhan kepada Bisnis, Senin (20/6/2022).

Selain itu, Ramdhan juga mengatakan di tahun ini cukup banyak obligasi korporasi jatuh tempo, sehingga sebagian besarnya di atas 50 persen akan menerbitkan kembali obligasi alias refinancing.

Meski dia menilai likuiditas pasar domestik masih tinggi, menurutnya ditengah peningkatan risiko saat ini investor juga turut meningkatkan kehati-hatian sehingga ada potensi penurunan likuiditas.

Akibatnya, obligor untuk menyesuaikan dengan kondisi pasar saat ini akan menaikkan return yang lebih tinggi. Sementara menurutnya para obligor yang baru persaingannya akan lebih sulit karena belum punya catatan obligasi sehingga sulit bagi investor melakukan penilaiannya.

Sementara Ramdhan juga menilai pembiayaan hampir di seluruh sektor saat ini menarik karena adanya pertumbuhan ekonomi.

“Jadi yang dulu terdampak langsung dari pandemi sekarang mulai pulih. Walaupun ada peningkatan kasus saat ini, tapi saya lihat ketahanan masyarakat lebih tinggi. Karena kita lihat pergerakan manusia, berbagai kegiatan ekonomi saat ini semakin normal,” ujarnya.

Dia juga mengatakan bahwa ketahanan perusahaan sebelum pandemi dan pada masa pandemi akan menjadi gambaran bagi investor untuk menaruh dananya.

Sementara itu, Ramdhan mengatakan untuk korporasi yang akan menerbitkan surat utang atau obligasi harus bisa memperkirakan sampai berapa mereka bisa membayar kewajibannya atau dengan kata lain korporasi harus bisa membaca kondisi pasar terhadap produk-produknya.

Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan, realisasi penerbitan surat utang hingga pekan pertama Juni 2022 mencapai Rp64,29 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun 2021 dengan Rp38,19 triliun dan Rp28,09 triliun pada 2020.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi Aksi Korporasi obligasi korporasi refinancing
Editor : Hafiyyan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top