Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wall Street Turun Tajam Jelang Rilis Inflasi AS, S&P 500 Ambruk 2,38 Persen

Investor Wall Street bersiap untuk Indeks Harga Konsumen (CPI) terbaru Biro Statistik Tenaga Kerja AS pada Jumat.
Farid Firdaus
Farid Firdaus - Bisnis.com 10 Juni 2022  |  05:54 WIB
Wall Street Turun Tajam Jelang Rilis Inflasi AS, S&P 500 Ambruk 2,38 Persen
Pekerja berada di lantai Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (3/1/2021). Bloomberg - Michael Nagle
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat berakhir di zona merah pada perdagangan Kamis (9/6/2022) waktu setempat akibat kecemasan di Wall Street atas data inflasi utama AS yang akan dirilis pada hari ini.

Berdasarkan data Bloomberg, Jumat (10/6/2022), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 1,94 persen atau 638,11 poin ke 32.272,79, S&P 500 anjlok 2,38 persen atau 97,95 poin ke 4.017,82, dan Nasdaq tersungkur 2,75 persen atau 332,05 poin ke 11.754,23.

Investor bersiap untuk Indeks Harga Konsumen (CPI) terbaru Biro Statistik Tenaga Kerja AS pada Jumat karena mereka mencari petunjuk lebih lanjut tentang seberapa agresif Federal Reserve akan meningkatkan suku bunga.

Rilis CPI diproyeksikan menunjukkan inflasi bertahan pada Mei 2022. Ekonom konsensus memperkirakan inflasi utama akan naik pada tingkat tahunan 8,3 persen untuk Mei, setara dengan angka April, dan sebesar 5,9 persen yang tidak termasuk harga makanan dan energi.

Penurunan pasar saham juga mengikuti data pasar tenaga kerja yang mengecewakan sebelum pembukaan dan konfirmasi dari Bank Sentral Eropa tentang niatnya untuk menaikkan suku bunga bulan depan.

Pengajuan mingguan untuk asuransi pengangguran mencapai 229.000 minggu lalu, terbesar sejak Januari 2022.

Sementara itu, harga minyak sedikit mundur tetapi bertahan di atas US$120 per barel, dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik tipis menjadi 3,06 persen, melampaui level 3 persen yang ditembus treasury AS awal pekan ini untuk pertama kalinya sejak awal Mei 2022.

Investor terus mencari petunjuk tentang bagaimana perekonomian berjalan di tengah kondisi keuangan yang lebih ketat dan seberapa agresif siklus kenaikan suku bunga Federal Reserve sebelum potensi jeda.

Pejabat bank sentral telah mengambil isyarat dari pasar tenaga kerja pada tempo kenaikan suku bunga karena melawan inflasi, dengan kebijakan yang bertujuan mendinginkan permintaan tenaga kerja cukup untuk tidak mendorong tingkat pengangguran terlalu tinggi.

"Satu hal yang pasti, pengangguran tidak punya tujuan selain naik dengan inflasi yang meningkatkan biaya untuk setiap perusahaan di seluruh negeri dan langkah-langkah pengendalian biaya harus diterapkan yang kemungkinan akan membebani tenaga kerja,” kata Kepala Ekonom FWDBONDS Christopher S. Rupkey.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street dow jones nasdaq

Sumber : Bloomberg/Yahoo Finance

Editor : Farid Firdaus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top