OPEC+ Ogah Genjot Produksi, Harga Minyak Melambung

Pelonggaran pembatasan pasca pandemi dan keengganan OPEC+ menambah produksi membuat harga minyak melambung
Tempat penyimpanan minyak di Pelabuhan Richmond in Richmond, California/ Bloomberg - David Paul Morris
Tempat penyimpanan minyak di Pelabuhan Richmond in Richmond, California/ Bloomberg - David Paul Morris

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak makin hot dengan dorongan sejumlah faktor. Pelonggaran pembatasan pasca pandemi dan keengganan OPEC+ menambah produksi membuat harga minyak melambung.

Pada perdagangan Rabu (1/6/2022) pukul 08.36 WIB, harga minyak Brent kontrak Agustus 2022 naik 0,42 persen atau 0,49 poin menjadi US$116,09 per barel.

Harga minyak WTI kontrak Juli 2022 juga naik 0,4 persen atau 0,46 poin menuju US$115,13 per barel.

Konsultan Oilytics, Keshav Lohiya mengungkapkan, pelonggaran pembatasan Covid-19 dan subsidi pemerintah mendorong permintaan yang menyebabkan naiknya harga minyak.

“Meskipun rekor harga tinggi dalam mata uang lokal, keputusan politik seperti subsidi terus mendistorsi pasar. Selain itu, permintaan pasca-Covid terus menjaga mobilitas sangat tinggi di Eropa, terutama menjelang musim panas," jelas Lohiya dilansir dari Financial Time, Selasa (31/05/2022).

Analis juga memantau setiap keputusan Uni Eropa (UE) tentang pembatasan atau embargo langsung atas pembelian minyak Rusia dalam beberapa hari mendatang.

Anggota Uni Eropa akan bertemu pada hari Senin dan Selasa. Larangan penuh atas pembelian minyak Rusia telah ditentang oleh beberapa anggota seperti Hongaria, tetapi UE ingin meningkatkan tekanan pada Rusia.

KTT pemimpin UE yang dimulai pada Senin malam diperkirakan akan berjanji untuk memasukkan minyak dan produk minyak bumi ke dalam paket sanksi.

"Tetapi akan memungkinkan pengecualian 'sementara' untuk minyak mentah yang dikirim melalui pipa," tulis draf kesimpulan yang dilihat oleh Financial Times.

Keengganan dari kelompok OPEC+ untuk mempercepat peningkatan produksi minyak juga menyebabkan kenaikan harga. OPEC+ bertemu pada hari Kamis dan secara luas diperkirakan akan tetap pada rencananya untuk meningkatkan produksi sekitar 400 ribu barel per bulan, target yang telah ditetapkan sejak tahun lalu.

Kekhawatiran tentang pengiriman melalui Selat Hormuz, yang dilalui sepertiga dari ekspor minyak laut setiap hari, setelah Iran menyita dua kapal tanker berbendera Yunani pada hari Jumat, telah menambah faktor yang mendorong harga.

Yunani, yang memiliki lebih banyak kapal tanker super yang berlayar di bawah benderanya daripada negara lain mana pun, telah memperingatkan kapal tanker minyak Yunani dan kapal lainnya untuk menghindari perairan laut yang dekat dengan Iran.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper