Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Stablecoin Terra Luna Seharusnya Bisa Redam Gejolak Bitcoin Cs, tapi Nyatanya...

Pada Senin malam waktu New York, Stablecoin TerraUSD telah jatuh ke level 60 sen, melampaui level terendah sebelumnya di 92 sen pada Mei 2021.
Farid Firdaus
Farid Firdaus - Bisnis.com 10 Mei 2022  |  13:33 WIB
Ilustrasi Stablecoin TerraUS - Istimewa.
Ilustrasi Stablecoin TerraUS - Istimewa.

Bisnis.com, JAKARTA – Stablecoin algoritmik seharusnya memiliki fungsi untuk memberikan ketenangan saat terjadi kekacauan atau penurunan tajam di pasar aset kripto.

Stablecoin algoritmik merupakan jenis stablecoin yang tidak mengandalkan fiat atau kripto sebagai jaminan. Stablecoin ini memiliki kontrak yang mengatur kapitalisasi pasar berdasarkan fluktuasi harga.

Cara kerjanya ketika harga turun, stablecoin algoritmik akan secara otomatis mengurangi total supply sehingga harga diharapkan akan naik. Sebaliknya, saat harga naik signifikan, maka aset ini secara otomatis akan menambahkan lebih banyak token alhasil harga dapat kembali turun.

Mengutip Bloomberg, Selasa (10/5/2022), alih-alih diperdagangkan pada US$1, seperti yang telah dirancang, stablecoin TerraUSD atau UST, tergelincir selama akhir pekan lalu menjadi sekitar 99 sen.

Pada Senin malam waktu New York, TerraUSD telah jatuh ke level 60 sen, melampaui level terendah sebelumnya di 92 sen pada Mei 2021.

Apa yang menyebabkan koin Terra Luna menjadi tidak terikat dengan sistem kripto adalah topik perdebatan warga internet yang intens. Putusnya hubungan terjadi bersamaan dengan aksi jual tajam dalam aset kripto, termasuk penurunan Bitcoin hingga di bawah US$30.000, dan penurunan yang lebih luas dari aset berisiko termasuk saham.

Apa pun katalisnya, itu bukan hal yang remeh. Pasalnya ada sekitar 18,5 miliar UST yang beredar, menurut CoinMarketCap, kehadiran yang cukup besar dapat memiliki implikasi sistemik untuk koin dan protokol lainnya.

Sebagai catatan, Do Kwon, sebagai pendiri kripto Terra LUNA, sebelumnya telah berkomitmen untuk membeli Bitcoin senilai US$10 miliar sebagai bagian dari dukungannya terhadap Bitcoin, yang selanjutnya menjalin proyek dengan pasar aset digital.

“Cukup jelas bahwa ada krisis kepercayaan,” kata Kyle Samani, analis Multicoin Capital.

Menurutnya belum ada kepastian apakah TerraUSD akan bertahan. Itu meningkatkan prospek turbulensi bola salju yang berpotensi menjadi salah satu ledakan kripto terbesar.

Sementara itu, penerbit stablecoin yang lebih konvensional seperti USDT Tether atau USDC Circle menegaskan bahwa token mereka didukung oleh aset nyata seperti uang tunai atau obligasi berperingkat tinggi dengan basis 1-1. Koin-koin ini memegang patokan mereka karena, menurut teori, mereka dapat dengan mudah ditukar dengan uang tunai atau setara kas yang sangat likuid.

Sebaliknya, stablecoin algoritmik berusaha mempertahankan nilainya melalui kombinasi instruksi yang dikodekan dalam program perangkat lunak dan manajemen perbendaharaan aktif. TerraUSD yang berfungsi bersama-sama dengan token terkait, yakni Luna adalah yang paling populer dan kontroversial dari jenis token ini.

Cara Kerja TerraUSD

Dalam kasus stablecoin Terra, jika harganya turun di bawah US$1, pedagang diberi insentif untuk menukar unit UST dengan Luna, yang menghilangkan koin UST sebelumnya dari peredaran.

Demikian pula, program perangkat lunak dirancang untuk melakukan hal yang sama. Jika harga naik di atas US$1, mekanisme berlaku sebaliknya, yakni menghapus token Luna dari peredaran untuk membuat unit baru UST yang setara.

Investor yang mencari keuntungan biasanya secara teratur menukar UST dengan Luna dan sebaliknya, sehingga memastikan harga tetap pada level US$1, atau setidaknya mendekati posisi tersebut. 

Kontributor lain untuk stabilitas harga UST adalah kripto yang setara dengan suku bunga di atas pasar yang ditawarkan melalui Anchor Protocol, atau “pemberi pinjaman terdesentralisasi” yang dibangun di atas blockchain Terra.

Anchor menawarkan tarif sekitar 20 persen untuk deposit UST, yang menawarkan insentif permintaan yang signifikan untuk token.

Tetapi selama akhir pekan lalu, semua mekanisme itu berhenti bekerja dan UST kehilangan patokan dolarnya, sementara Luna juga ikut merosot nilainya. Hal itu memicu serangkaian intervensi pasar kripto oleh Do Kwon bersama dewan Luna Foundation Guard (LFG), sebuah konsorsium pemain kripto yang mencakup Kanav Kariya dari Jump Crypto.

Menjelang tengah malam waktu New York pada Senin, UST tetap berada di bawah tekanan. Luna diperdagangkan sekitar US$29, turun 52 persen dari hari sebelumnya, menurut CoinMarketCap.

Sebagai informasi LFG adalah organisasi nirlaba yang didirikan Desember lalu, Do Kwon terdaftar sebagai direktur. Kwon, yang membagi waktunya antara Seoul dan Singapura, tidak segera membalas permintaan komentar Bloomberg.

“Pecundang terbesar dari semua ini adalah [investor] ritel yang tidak memahami risiko yang mereka ambil,” kata Samani dari Multicoin.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bitcoin cryptocurrency mata uang kripto Ethereum aset kripto

Sumber : Bloomberg

Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top