Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Merosot Pagi Ini ke Rp14.491, Mata Uang Asia Ikut Rontok

Selain rupiah, mata uang lain di kawasan Asia turut melemah termasuk won Korea Selatan turun 0,67 persen, yuan China turun 0,65 persen.
Petugas menunjukkan mata uang dolar AS dan rupiah di Money Changer, Jakarta, Senin (19/4/2021). Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Petugas menunjukkan mata uang dolar AS dan rupiah di Money Changer, Jakarta, Senin (19/4/2021). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terpantau melemah pada pembukaan perdagangan hari ini, Senin (25/4/2021). Pelemahan juga terjadi pada mata uang lain di kawasan Asia.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah dibuka merosot 130 poin atau 0,91 persen ke posisi Rp14.491,50 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS pun terpantau menguat 0,0370 poin atau 0,04 persen di posisi 101,2570.

Selain rupiah, mata uang lain di kawasan Asia turut melemah di antaranya won Korea Selatan turun 0,67 persen, yuan China turun 0,65 persen, ringgit Malaysia turun 0,46 persen, dan dolar Taiwan yang juga turun 0,36 persen terhadap dolar AS.

Sebelumnya Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif, tetapi cenderung berakhir melemah di rentang Rp14.350-Rp14.380 pada awal pekan ini.

Menurut Ibrahim sentimen datang dari kenaikan angka inflasi yang menjadi masalah serius. Inflasi tak hanya terjadi di negara berkembang dan negara pasar berkembang saja, tetapi juga negara maju.

“Peningkatan inflasi di berbagai belahan dunia merupakan dampak dari konflik Rusia dan Ukraina yang masih berlangsung,” kata dia dalam riset harian, dikutip Senin (25/4/2022).

Ketegangan geopolitik Rusia dan Ukraina menyebabkan tingginya harga komoditas, terutama harga energi dan makanan yang berdampak langsung kepada seluruh negara.

Selain inflasi, konflik kedua negara juga berdampak pada jalur perdagangan. Ketegangan ini membuat masalah dalam rantai pasokan global, serta membuat perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

"Indonesia ikut terkena dampaknya dengan naiknya harga komoditas, sehingga mengakibatkan inflasi yang tinggi dan ini akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di tahun 2022 yang kemungkinan juga akan menurun," kata Ibrahim.

Sementara itu, dari luar negeri, Emmanuel Macron yang kembali terpilih menjadi Presiden Prancis berhasil memperkuat mata uang euro.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper