Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

PHEI: Pasar Obligasi 2022 Cenderung Moderat Akibat Tekanan Inflasi

Penurunan defisit APBN menjadi 4,85 persen terhadap PDB akan mendorong supply SBN yang lebih rendah.
Ilustrasi - Eurobonds/Bisnis-youtube
Ilustrasi - Eurobonds/Bisnis-youtube

Bisnis.com, JAKARTA - PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) menilai pasar obligasi Indonesia pada 2022 akan bergerak moderat karena tekanan inflasi yang terjadi di Amerika maupun global.

Konsensus ekonom Bloomberg memperkirakan level inflasi AS pada 2022 akan meningkat ke level 4,4 persen, sedangkan inflasi global berada di level 3,9 persen. Adapun potensi tingginya inflasi di AS memicu penyesuaian kebijakan moneter Bank Sentral yang lebih cepat di beberapa negara maju.

Pasalnya level inflasi AS yang melonjak sangat tinggi mendorong The Fed mempercepat laju tapering sehingga menimbulkan spekulasi kenaikan Fed Funds Rate (FFR) hingga 3 kali pada tahun ini. Jumlah kenaikan tersebut sejalan dengan proyeksi para anggota FOMC yakni FFR akan berada di level 0,75 persen sampai 1,00 persen pada 2022.

Selain itu, PHEI melihat tekanan inflasi juga diperkirakan berasal dari dalam negeri seiring dengan pemulihan ekonomi yang tercermin dari peningkatan Indeks Keyakinan Konsumen. "Potensi kenaikan inflasi juga bersasal dari inflasi non inti seiring dengan wacana penghapusan BBM jenis Premium dan Pertalite, penyesuaian tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 11 persen, dan potensi kenaikan cukai beberapa barang konsumsi," tulis PHEI dalam keterangan resmi Jumat (7/1/2022).

Dengan sejumlah tekanan inflasi tersebut, konsensus ekonom Bloomberg memperkirakan inflasi Indonesia meningkat ke level 2,9 persen. Sejumlah risiko inflasi dan pengetatan moneter AS yang lebih cepat mendorong potensi penyesuaian kebijakan moneter oleh Bank Indonesia.

Selain risiko inflasi dan percepatan normalisasi kebijakan moneter AS, risiko perkembangan Covid-19 akibat munculnya varian baru Omicron juga masih akan terus membayangi pasar.

PHEI melihat ada beberapa katalis positif pasar yakni penurunan defisit APBN, perbaikan Neraca Perdagangan, dan potensi pemulihan ekonomi domestik.

The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2022 akan tumbuh sebesar 4,9 persen yoy atau meningkat dari proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2021 yang sebesar 3,7 persen yoy.

Institusi bank lokal diperkirakan masih menjadi faktor utama demand di pasar obligasi khususnya SBN. Kondisi ini didorong oleh masih relatif rendahnya proyeksi penyaluran kredit perbankan di tahun 2022 ditengah likuiditas yang terjaga.

Bank Indonesia memproyeksikan kredit perbankan tumbuh pada kisaran 6 persen hingga 8 persen pada 2022. Adapun penurunan defisit APBN menjadi 4,85 persen terhadap PDB akan mendorong supply SBN yang lebih rendah. Target penerbitan SBN berdasarkan APBN 2022 menurun menjadi sebesar Rp991,3triliun.

"Sedangkan untuk penerbitan obligasi korporasi pada tahun 2022 diperkirakan akan lebih semarak. Prospek pemulihan ekonomi dan besarnya potensi refinancing perusahaan yang tercermin dari peningkatan nilai obligasi yang akan jatuh tempo tahun 2022 yakni sebesar Rp144,67tn diperkirakan menjadi faktor utama peningkatan penerbitan obligasi korporasi baru tahun 2022," pungkas PHEI.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Pandu Gumilar
Editor : Farid Firdaus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper