Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Inflasi RI Merangkak Naik, Rupiah Ditutup Melemah

Rupiah melemah bersama mata uang Asia lainnya, yakni Yen Jepang yang turun 0,20 persen terhadap dolar AS, dolar Hong Kong yang turun 0,22 persen, peso Filipina yang turun 0,04 persen dan ringgit Malaysia yang turun 0,19 persen.
Petugas menunjukkan mata uang dolar AS dan rupiah di Money Changer, Jakarta, Senin (19/4/2021). Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Petugas menunjukkan mata uang dolar AS dan rupiah di Money Changer, Jakarta, Senin (19/4/2021). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup melemah di hadapan dolar AS pada penutupan Rabu (1/12/2021).

Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda ditutup melemah 14,5 poin atau 0,10 persen ke level Rp14.346,5 per dolar AS.

Rupiah melemah bersama mata uang Asia lainnya, yakni Yen Jepang yang turun 0,20 persen terhadap dolar AS, dolar Hong Kong yang turun 0,22 persen, peso Filipina yang turun 0,04 persen dan ringgit Malaysia yang turun 0,19 persen.

Sementara itu, indeks dolar AS turun 0,04 persen ke level 95,954.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelaku pasar mencerna tanda-tanda dari Ketua The Federal Reserve AS Jerome Powell, bahwa The Fed akan membahas penyelesaian pengurangan aset lebih cepat dari yang direncanakan.

"Powell mengatakan The Fed akan membahas apakah akan mengakhiri pengurangan aset beberapa bulan lebih awal dari yang dijadwalkan dalam pertemuannya di akhir bulan," kata Ibrahim dalam risetnya, Rabu (1/12/2021).

Selain itu, sentimen juga datang dari Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO yang memperingatkan agar tidak memberlakukan larangan perjalanan menyeluruh, yang telah diterapkan oleh beberapa negara.

Dari dalam negeri, sentimen datang dari Badan Pusat Statistik yang mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mengalami inflasi sebesar 0,37 persen secara bulanan pada November 2021.

Sementara, inflasi secara tahun berjalan dan tahunan, masing-masing sebesar 1,3 persen dan 1,75 persen. Realisasi inflasi ini merupakan yang tertinggi sepanjang 2021, baik secara bulanan dan tahunan.

Selain itu, data PMI Manufaktur di Indonesia masih berada di fase ekspansif selama tiga bulan berturut-turut. Sektor manufaktur melanjutkan pemulihan seiring penurunan kasus Covid-19, terutama varian Delta.

Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia berada di level 53,9 pada November 2021, jauh lebih rendah dibandingkan yang tercatat di bulan Oktober 2021 yakni 57,2.

Adapun untuk perdagangan besok, Kamis (2/12/2021), Ibrahim memperkirakan mata uang rupiah dibuka berfluktuatif, tetapi, ditutup melemah di rentang Rp14.330-Rp14.380.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper