Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wall Street Dibuka Tenggelam, Saham Teknologi Jumbo Diobral Investor

Indeks Nasdaq 100 yang padat saham teknologi berada pada bulan terburuk dalam satu tahun.
Seorang pejalan kaki yang memakai masker lewat di depan gedung bursa saham New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, pada Kamis, (22/7/2021)./Bloomberg
Seorang pejalan kaki yang memakai masker lewat di depan gedung bursa saham New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, pada Kamis, (22/7/2021)./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Saham-saham teknologi berkapitalisasi pasar jumbo di Bursa Amerika Serikat (AS) mengalami aksi jual investor pada pembukaan perdagangan Selasa (28/9/2021) waktu setempat.

Berdasarkan data Bloomberg pada 20.31 WIB, indeks Dow Jones Industrial Average dibuka turun 0,35 persen ke level 34.749,01, sementara S&P 500 tergelincir 0,78 persen ke 4.408,47, sedangkan Nasdaq melemah 1,27 persen ke 14.779,74.

Indeks Nasdaq 100 yang padat saham teknologi berada pada bulan terburuk dalam satu tahun. Saham Apple Inc. dan Amazon.com Inc. merosot lagi pada Selasa, secara signifikan berkinerja di bawah saham emiten yang kemungkinan akan mendapat manfaat paling besar dari kebangkitan ekonomi.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun mencapai 1,54 persen, atau level tertinggi sejak Juni 2021.

Imbal hasil, yang bergerak berbanding terbalik dengan harga, telah bertahan pada level rendah selama pandemi, dan kenaikan imbal hasil sebagian besar mencerminkan taruhan pada penguatan indikator ekonomi AS.

Harga minyak mentah juga melejit, dan data ekonomi yang positif termasuk laporan konsumsi durable goods yang jauh lebih kuat dari perkiraan membantu mendukung langkah tersebut.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate berada di jalur penguatan pada sesi keenam berturut-turut dan menembus di atas US$76 per barel, atau harga komoditas tertinggi sejak Juli 2021. Sedangkan minyak mentah Brent menyentuh level US$80 per barel atau mencapai level tertinggi sejak Oktober 2018.

"Yang benar-benar Anda lihat adalah, di seluruh kelas aset, pasar [mengadopsi] pandangan pro-siklus, yang berarti pertumbuhan yang lebih baik di masa depan, inflasi yang lebih tinggi, imbal hasil obligasi yang lebih tinggi, kata Tom Essaye, Pendiri Riset The Sevens Report, kepada Yahoo Finance Live.

Investor juga terus mengawasi perkembangan di Washington, dengan anggota parlemen menghadapi tenggat waktu minggu ini untuk mendanai pemerintah AS demi mencegah apa yang disebut dengan government shutdown.

Upaya untuk meloloskan anggaran pemerintah AS yang baru telah masuk ke dalam perdebatan seputar apakah akan menaikkan pagu utang federal atau tidak dan meloloskan paket rekonsiliasi senilai US$3,5 triliun, yang akan memajukan sejumlah inisiatif yang menjadi inti agenda ekonomi Presiden Joe Biden.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Farid Firdaus
Editor : Farid Firdaus
Sumber : Bloomberg/Yahoo Finance
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper