Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mayoritas Wall Street Ditutup Merah, Pernyataan Jerome Powell Kian Dinanti

Antisipasi tapering The Fed telah menjadi sumber kekhawatiran bagi pelaku pasar selama beberapa bulan terakhir.
Farid Firdaus
Farid Firdaus - Bisnis.com 22 September 2021  |  05:49 WIB
Mayoritas Wall Street Ditutup Merah, Pernyataan Jerome Powell Kian Dinanti
Seorang pejalan kaki yang memakai masker lewat di depan gedung bursa saham New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, pada Kamis, (22/7/2021). - Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Mayoritas saham di Bursa Amerika Serikat (AS) jatuh pada menit-menit terakhir penutupan perdagangan Selasa (21/9/2021) waktu setempat. Pelemahan berlanjut setelah sehari sebelumnya Wall Street mencatatkan penurunan terbesar dalam empat bulan.

Berdasarkan data Bloomberg, Rabu (22/9/2021), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 0,15 persen ke 33.919,84, sementara S&P 500 tergelincir 0,08 persen ke level 4.354,19, sedangkan Nasdaq menguat 0,22 persen ke 14.746,40.

S&P 500 telah mengejutkan investor sepanjang sesi perdagangan. Indeks sempat dibuka menguat, yang semula menunjukkan beberapa peningkatan sentimen setelah kekhawatiran pasar tentang dampak negatif dari utang China Evergrande Group yang mengguncang pasar global pada Senin (20/9/2021).

Sektor industri, layanan komunikasi dan utilitas membebani indeks benchmark. Disney merosot paling parah sejak Mei setelah perusahaan memperkirakan pertumbuhan pelanggan lebih lambat. Indeks Futures memperpanjang penurunan dalam perdagangan setelah jam kerja karena FedEx Corp memangkas perkiraan pendapatan setahun penuh.

Untuk pelaku pasar, keputusan terbaru The Fed akan menjadi salah satu peristiwa penting minggu ini, mengalihkan perhatian terhadap kebijakan moneter domestik setelah kekhawatiran atas dampak dari potensi default China Evergrande.

Pernyataan kebijakan moneter dan konferensi pers berikutnya dari Gubernur Fed Jerome Powell pada Rabu sore waktu setempat diperkirakan akan meletakkan dasar bagi pengumuman jangka pendek dan mulai mengurangi program pembelian aset era krisis, yang saat ini terdiri dari pembelian US$120 miliar per bulan.

Antisipasi tapering The Fed telah menjadi sumber kekhawatiran bagi pelaku pasar selama beberapa bulan terakhir karena bank sentral meningkatkan diskusinya tentang mulai menghapus salah satu sumber utama dukungan bagi ekonomi yang dilanda pandemi.

"Saya pikir secara seimbang The Fed masih bergerak maju. Mereka akan memberi tahu kita bahwa mereka akan melakukan pengurangan stimulus tahun ini, atau rencana mereka tetap pada tahun ini. Itu menetapkan November atau mungkin Desember sebagai pengumuman resmi,” kata Presiden MacroPolicy Perspectives Julia Coronado kepada Yahoo Finance.

Keputusan kebijakan juga akan datang bersamaan dengan proyeksi ekonomi terbaru dari anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), termasuk pandangan pertama pada ekspektasi mereka untuk tahun 2024.

Berdasarkan proyeksi terbaru bank sentral dari Juni, "dot plot" atau bagan FOMC ekspektasi suku bunga mengisyaratkan anggota median mengharapkan dua kenaikan suku bunga pada akhir 2023.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

wall street dow jones nasdaq

Sumber : Bloomberg/Yahoo Finance

Editor : Farid Firdaus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top