Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

OJK: 83 Penawaran Umum Senilai Rp52,5 Triliun dalam Pipeline, Termasuk 40 IPO

OJK mencatat masih terdapat 83 penawaran umum dalam proses (pipeline) senilai total Rp52,56 triliun.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso  menyebut penerapan keuangan berkelanjutan berbasis environmental, social, and governance (ESG) di pasar modal sangat penting karena akan memberikan nilai positif bagi emiten dan pasar keuangan Indonesia.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyebut penerapan keuangan berkelanjutan berbasis environmental, social, and governance (ESG) di pasar modal sangat penting karena akan memberikan nilai positif bagi emiten dan pasar keuangan Indonesia.

Bisnis.com, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan masih ada 83 penawaran umum yang ada dalam proses untuk segera dilaksanakan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoro menjelaskan semarak penawaran umum masih akan terjadi hingga akhir tahun. Setidaknya, sudah ada 40 penawaran umum saham perdana yang siap dilaksanakan.

"Berdasarkan catatan kami, masih terdapat 83 penawaran umum dalam proses (pipeline) senilai total Rp52,56 triliun dengan 40 penawaran umum diantaranya akan dilakukan melalui mekanisme IPO," ujarnya dalam peringatan 44 Tahun Bursa Efek Indonesia, Selasa (10/8/2021).

Ke depan, jelasnya, OJK akan terus berupaya meningkatkan basis suplai antara lain dengan mengakomodir calon emiten dari new economy alias perusahaan rintisan untuk melakukan IPO yang diharapkan dapat meramaikan perdagangan saham di BEI.

Menurutnya, antusiasme dan optimisme penghimpunan dana melalui pasar modal yang terjaga ini diharapkan dapat menjadikan pasar modal sebagai motor penggerak pemulihan ekonomi nasional.

Di sisi lain, pandemi Covid 19 menyebabkan mobilitas masyarakat terbatas sehingga terjadi penurunan konsumsi di masyarakat dan berdampak meningkatnya disposable income yang mengendap dalam bentuk simpanan di perbankan. Selain itu, kebijakan fiskal dan moneter juga turut meningkatkan likuiditas di pasar.

"Implikasi dari kebijakan dimaksud membuat masyarakat memiliki dana berlebih yang siap untuk diinvestasikan. Masyarakat kemudian mencari alternatif investasi lain yang memberikan return lebih tinggi, salah satunya instrumen pasar modal," katanya.

Hingga Juli 2021, investor pasar modal meningkat menjadi 5,82 juta naik 93 persen secara tahunan yang didominasi oleh investor ritel berumur kurang dari 30 tahun atau investor milenial.

Pertumbuhan investor tersebut mencapai 2 kali lipat sejak awal pandemi dimana hal ini mencerminkan tingginya optimisme investor terhadap pasar modal Indonesia.

"Keberhasilan ini merupakan upaya kita bersama dalam menjaga volatilitas pasar modal agar senantiasa stabil dan terkendali. Peningkatan jumlah investor ritel tersebut juga merupakan hasil dari transformasi digital yang menjadi kunci utama bagi pendalaman basis investor ritel di pasar modal," urainya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper