Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

China Perketat Aturan Perusahaan Pendidikan, Indeks Shanghai Composite Merosot

Indeks Shanghai Composite terkoreksi 2,18 persen ke level 3.473,13 pada pukul 11.09 WIB, sedangkan indeks CSI 300 melemah 2,89 persen ke level 4.941,96.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 26 Juli 2021  |  12:01 WIB
China Perketat Aturan Perusahaan Pendidikan, Indeks Shanghai Composite Merosot
Bursa Shanghai Composite Index - Reuters
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Aksi jual saham perusahaan pendidikan swasta China menyeret pasar saham Negeri Panda tersebut ke zona merah pada Senin (26/7/2021).

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Shanghai Composite terkoreksi 2,18 persen ke level 3.473,13 pada pukul 11.09 WIB, sedangkan indeks CSI 300 melemah 2,89 persen ke level 4.941,96.

Adapun indeks Hang Seng di Hong Kong melemah 2,91 persen ke level 26.527,06.

Pasar saham anjlok setelah pemerintah China melarang perusahaan bimbingan belajar (bimbel) yang mengajarkan kurikulum sekolah untuk menghasilkan keuntungan, meningkatkan modal, serta melantai di bursa.

Selain itu, perusahaan juga tidak dapat lagi menerima investasi luar negeri, yang mencakup modal dari entitas terdaftar di luar negeri.

Larangan tersebut berangkat dari pemikiran bahwa bimbel yang berlebihan menyiksa anak muda, membebani orang tua dengan biaya mahal, dan memperburuk ketidaksetaraan dalam masyarakat.

“Industri pendidikan di luar sekolah telah sangat dibajak oleh modal. Itu merusak sifat pendidikan sebagai kesejahteraan,” kata Kementerian Pendidikan dalam sebuah artikel, dilansir Bloomberg, Minggu (25/7).

Saham New Oriental Education & Technology Group Inc. anjlok sebanyak 40 persen, melanjutkan penurunaan 41 persen pada hari Jumat dan setelah sahamnya yang diperdagangkan di AS turun 54 persen.

Perseroan memperingatkan dalam pengajuan ke bursa pada Senin bahwa peraturan pemerintah China akan memiliki dampak material yang merugikan pada perusahaan. Saham-saham lain juga terperosok. Koolearn Technology Holding Ltd jatuh hingga 35 persen, sedangkan saham China Maple Leaf Educational Systems Ltd anjlok 16 persen.

Analis JPMorgan Chase & Co termasuk DS Kim dalam sebuah catatan mengatakan skenario terburuk menjadi kenyataan. Belum dapat dipastikan apakah perusahaan bimbingan pelajar dapat tetap terdaftar di bawah rezim baru ini.

“Tidak jelas tingkat restrukturisasi apa yang harus dilakukan perusahaan dengan rezim ini dan, dalam pandangan kami, langkah ini membuat saham ini hampir tidak dapat diinvestasikan,” ungkap analis JPMorgan, Senin (26/7/2021).

Perusahaan yang mengajar mata pelajaran sekolah tidak dapat lagi menerima investasi asing, termasuk mencakup modal dari perusahaan China yang sahamnya diperdagangkan di bursa asing. Perusahaan yang sekarang melanggar aturan itu harus mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki situasi.

Selain itu, perusahaan yang terdaftar tidak akan lagi diizinkan untuk mengumpulkan modal melalui pasar saham untuk berinvestasi dalam bisnis yang mengajarkan mata pelajaran di kelas. Akuisisi langsung dilarang. Semua bimbingan liburan dan akhir pekan yang terkait dengan silabus sekolah saat ini dilarang.

“Perusahaan bimbingan kurikulum harus merombak bisnis mereka atau bahkan beralih ke industri yang berbeda sesegera mungkin,” kata analis dari Citic Securities Ltd Jiang Ya.

Teknologi pendidikan telah muncul sebagai salah satu investasi terpanas di China dalam beberapa tahun terakhir karena menarik investasi miliaran dari institusi besar seperti Tiger Global Management, Temasek Holdings Pte, dan SoftBank Group Corp.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa china shanghai composite index
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top