Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investor Tunggu data Inflasi AS, Euro dan Pound Sterling Menguat

Prospek inflasi AS dan kecepatan pengetatan kebijakan Federal Reserve (Fed) di masa mendatang kembali menjadi fokus menjelang data indeks harga konsumen pada Selasa (13/7/2021) dan kesaksian Ketua Fed Jerome Powell mulai Rabu (14/7/2021).
Newswire
Newswire - Bisnis.com 12 Juli 2021  |  10:08 WIB
Investor Tunggu data Inflasi AS, Euro dan Pound Sterling Menguat
Poundsterling dan euro. - Reuters
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Mata uang berisiko melayang di atas posisi terendah baru-baru ini terhadap dolar AS dan yen di perdagangan Asia pada Senin pagi (12/7/2021), karena kekhawatiran terhadap perlambatan pemulihan ekonomi global tampaknya telah mereda untuk saat ini.

Prospek inflasi AS dan kecepatan pengetatan kebijakan Federal Reserve (Fed) di masa mendatang kembali menjadi fokus menjelang data indeks harga konsumen pada Selasa (13/7/2021) dan kesaksian Ketua Fed Jerome Powell mulai Rabu (14/7/2021).

"Jika kita melihat data yang kuat, The Fed dapat memajukan proyeksi mereka untuk kenaikan suku bunga pertama mereka lebih jauh dari perkiraan mereka saat ini pada 2023. Itu juga berarti mereka harus menyelesaikan tapering (pengurangan pembelian obligasi) lebih awal," kata Ahli Strategi Valas Senior Barclays, Shinichiro Kadota.

Euro diperdagangkan pada US$1,1873, kembali dari level terendah tiga bulan di US$1,17815 dolar ditetapkan pada Rabu (7/7/2021), sementara terhadap yen mata uang tunggal itu berdiri di 130,87 yen, turun dari level terendah 2,5 bulan pada Kamis (8/7/2021) di 129,63 yen.

Sterling juga menguat menjadi US$1,3900, sementara dolar Australia memantul kembali ke US$0,7487 dari level terendah tujuh bulan pada Jumat (9/7/2021) di US$0,7410.

Mata uang berisiko tergelincir awal pekan lalu karena investor membatasi taruhan mereka, sebagian karena data ekonomi dari banyak negara tidak memenuhi ekspektasi pasar.

Kekhawatiran tentang varian Delta dari Virus Corona juga menambah suasana hati-hati meskipun beberapa investor berpikir pemulihan ekonomi akan tergelincir.

Namun, penjualan mata uang berisiko mereda pada Jumat (9/7/2021), dan sentimen semakin diperkuat setelah China memangkas rasio persyaratan cadangan bank secara keseluruhan, untuk mendukung pemulihan ekonominya yang mulai kehilangan momentum.

Pada Senin pagi, yuan China datar di 6,4785 per dolar, turun dari level terendah 2,5 bulan pada Jumat (9/7/2021) di 6,5005.

Pemulihan sentimen risiko menghambat safe-haven yen pada Senin. Mata uang Jepang berdiri di 110,17 yen per dolar, turun dari tertinggi satu bulan pada Kamis di 109,535 yen.

Dengan kalender data pada Senin yang relatif kosong, banyak investor menunggu data harga konsumen AS pada Selasa (13/7/2021) untuk Juni.

Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan IHK inti naik 0,4 persen dari Mei dan 4,0 persen dari tahun sebelumnya setelah dua bulan berturut-turut harga-harga naik tajam.

Setiap tanda bahwa inflasi bisa lebih persisten dari yang diperkirakan sebelumnya dapat memicu ekspektasi bahwa Fed mungkin keluar dari stimulus saat ini lebih awal, mendukung dolar terhadap mata uang utama lainnya.

Sebaliknya, data yang lebih ramah dapat membuat investor berpikir bahwa bank sentral AS mampu mempertahankan kerangka kebijakan yang longgar lebih lama, mendorong lebih banyak taruhan pada aset-aset berisiko, termasuk mata uang yang sensitif terhadap risiko.

Aset uang sedikit bergerak, dengan Bitcoin di US$34.267 dan Ether di US$2.137.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as Inflasi mata uang

Sumber : Antara

Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top